-->

5 Cara Membayar Zakat Fitrah Yang Pernah Kami Lakukan

Mei 12, 2021

Jejakbede.online - Lebaran sebentar lagi, saatnya kita umat Islam menunaikan salah satu kewajiban yang berangkai dengan puasa Ramadhan, yaitu Zakat Fitrah.

Zakat Fitrah ini memang merupakan salah satu hal wajib yang ditunaikan hanya saat bulan Ramadhan saja. Di luar bulan Ramadhan tidak ada zakat fitrah.

Zakat fitrah ini wajib ditunaikan oleh seluruh jiwa bahkan bayi yang baru lahir di bulan Ramadhan. Tentunya bayi dan anak-anak ditunaikan oleh orang tuanya masing-masing.

Besarnya zakat fitrah adalah 3,5 liter beras atau  2,5 kg beras atau makanan pokok yang setara. 

Waktu yang terbaik untuk melakukan pembayaran zakat fitrah ini adalah sebelum sholat Idul Fitri. Namun, tentunya waktunya sangat sempit.

Maka kemudian dianjurkan menunaikan zakat fitrah pada hari sebelum hari raya, agar panitia pengumpul lebih mudah dan cukup waktu menyalurkan kepada yang berhak.

Kebayangkan kalo misalnya semua umat muslim semuanya membayar pada zakat fitrah hanya pada saat sebelum sholat Idul Fitri, bagaimana para petugas punya cukup waktu untuk segera menyalurkannya kepada yang berhak menerima.

Panitia pengumpul zakat ini disebut amil zakat. Adapun kita yang terkena kewajiban zakat disebut muzakki.

Dalam hal pembayaran zakat fitrah, ada berbagai metode yang diterapkan oleh masing-masing penyelenggara atau pengumpul zakat fitrah.

Berikut pengalaman saya dalam menunaikan kewajiban sebagai muslim untuk membayar zakat fitrah tersebut.


1. Dipotong melalui jatah beras gaji

Ini dulu banget sampe akhir tahun 1990an. Para PNS dulu menerima jatah beras setiap bulan sebagai bagian dalam hak penghasilan.

Besarnya 10 kilogram perjiwa yang masuk tanggungan PNS. Jadi kalo  seorang PNS memiliki seorang istri dan 3 orang anak, maka jatah berasnya adalah 50 kilogram.

Cerita terkait:

Maka pada saat gajian yang jatuh pada bulan Ramadhan, jatah beras para PNS sudah dipotong untuk zakat fitrah.

Tapi bapak saya merasa kurang afdhol cara ini, sehingga meski sudah terpotong melalui jatah beras, biasanya bapak saya tetap membayar ulang zakat fitrah ke masjid terdekat.

Menurut bapak saya, sehari-hari kami makan beras yang kualitasnya lebih baik, masak zakatnya dengan beras yang kualitas rendah.

Dulu emang sih beras jatah PNS tuh terkenal jelek banget kualitasnya. Untuk memasaknya harus dicuci dulu berulang-ulang sampe warna berasnya bisa terlihat putih. Belum lagi kotoran dan kutunya.

Jadinya bapak saya suka menjualnya kemudian membeli beras lain dengan kualitas yang lebih baik untuk dikonsumsi sehari-hari.


2. Menukar uang dengan beras

Maksudnya kita pergi membayar zakat fitrah ke amil zakat  dengan membawa uang. Di sana uang kita nantinya akan ditukarkan dengan beras yang memang sudah disiapkan oleh panitia.

Jadi, saat kita menyerahkan untuk dicatat oleh panitia tersebut, zakat kita yang diterima oleh mereka sudah dalam bentuk beras.

Ini saya alami di salah satu masjid dekat kosan saat kuliah mengejar cita-cita di Jakarta, duluuu banget.

Ceritanya di sini:

Saya lupa jenis beras yang disiapkan panitia apa sesuai tingkatnya. Karena, jika muzakki sehari-hari makannya beras kualitas premium maka yang dizakatkan adalah beras kualitas premium juga atau yang setara dengan itu.


3. Membayar dalam bentuk uang

Sekarang banyak lembaga pengumpul zakat yang menerima pembayaran zakat fitrah dalam bentuk uang. Cara ini dirasa lebih praktis baik untuk pengumpulan maupun saat pembagian kepada yang berhak.

Nilainya mengacu kepada harga beras yang kita konsumsi sehari-hari. Jika kita mengkonsumsi beras yang harganya Rp15.000/kg maka zakat kita adalah 2,5kg kali nilai tersebut.

Jika tanggungan kita dalam keluarga sebanyak 4 jiwa termasuk diri kita, maka besar zakat fitrah adalah:

4 jiwa x 2,5 kg x Rp15.000 = Rp150.000

Biasanya pada setiap daerah sudah ditetapkan nilai harga beras masing-masing. Ada yang satu harga saja, namun ada pula yang menetapkan lebih dari satu harga, sesuai tingkat kualitas berasnya.



4. Membayar langsung ke penerima Zakat

Cara ini yang kami lakukan saat ini. Kebetulan di sekitar tempat tinggal kami saat ini cenderung menyalurkan zakat fitrah langsung ke penerima.

Kami menyalurkan dalam bentuk uang juga senilai dengan perhitungan di atas. Dulu-dulu pernah juga sih membayar zakat langsung ke penerima dalam bentuk beras.

Bagi kita yang punya cukup waktu silahkan saja menunaikan kewajiban menyalurkan zakat fitrahnya langsung ke penerima.

Cara ini mungkin memiliki kekurangan karena bisa saja distribusi zakat fitrah menjadi tidak merata kepada semua yang wajib menerima.

Misalnya dalam satu lokasi ada 10 orang yang berhak menerima. Namun, karena para muzakki hanya kenal 1-2 orang saja maka zakat fitrah hanya akan tersalur pada 1-2 orang saja.

Berbeda misalnya zakat fitrah tersebut dikelola oleh satu panitia amil zakat. Zakat fitrah yang terkumpul kemudian akan dibagi merata kepada ke sepuluh orang yang berhak menerima tersebut.



5. Membayar zakat fitrah secara daring

Saat baru pindah ke tempat tinggal saat ini kami sempat kesulitan saat hendak menyalurkan zakat fitrah. 

Kami mengecek ke Masjid terdekat menanyakan panitia penerima zakat, tidak terlihat adanya kegiatan pengumpulan zakat. 

Mau menyalurkan secara langsung kami belum kenal warga sekitar yang memang berhak menerima zakat fitrah.

Menu pembayaran Zakat Fitrah pada laman Dompet Dhuafa

Akhir kami putuskan untuk membayar secara daring melalui Dompet Dhuafa. Cukup mudah dan praktis.

Baca juga:

Menu pada laman pengumpulan donasi online milik Dompet Dhuafa cukup bekerja dengan baik. Saat mengisi form hingga konfirmasi pembayaran terintegrasi penuh dan cukup sederhana.



Begitulah sobat, beberapa metode yang pernah kami lakukan saat menunaikan kewajiban membayar zakat fitrah.

11 Komentar untuk "5 Cara Membayar Zakat Fitrah Yang Pernah Kami Lakukan"

  1. kalau aku seringnya langsung sih bang.. yang nomor 4 jadinya :D

    BalasHapus
  2. sekarang ini lebih praktis daring bang sejak pandemi
    kadang masih berupa fisik beras juga

    BalasHapus
  3. alhamdulillah masih diberi kesempatan berzakat di bulan ramdhan kemarin. Dan langsung sih saya bang sama seperti mbak Nita hihi

    BalasHapus
  4. membayar zakat fitrah secara daring menjadi metode bayar yang banyak dipilih karena tidak perlu bertatap muka.

    BalasHapus
  5. Pembayaran secara daring untuk saat ini sepertinya menjadi pilihan banyak orang ya mas, karena lebih praktis, nggak harus keluar rumah, nggak harus bawa2 berasa ataupun uang tunai.

    BalasHapus
  6. Wah saya telat baca ini, harusnya sebelum idul fitri kemarin hihi

    BalasHapus
  7. Kalau kami selalu kasih langsung, bawa beras ke masjid.
    Kalau di Buton, bawa beras di orang-orang tua gitu, nanti didoain, trus berasnya itu wajib dilebihkan, lebihnya itu dibawa pulang, dan dicampurin ke nasi yang akan kita masak hihihi :D

    BalasHapus
  8. Aku selalunya kasih langsung ke orang yg berhak menerima mas. Kebetulan aku tinggal di daerah bukan komplek, JD msh banyaaaaak keluarga2 yg susah di sekitaran ku. Aku slalu ksh ke mereka. Biasanya 15-20 keluarga.

    Kalo via dompet dhuafa juga pernah, tp biasanya zakat penghasilan dan zakat harta. Aku slalu salurin ke sana. Beli kurban juga prnh dr dompet dhuafa. Bagus tuh mereka, dokumentasinya komplit kurbanku disalurin kemana.

    BalasHapus
  9. kebetulan kalau kami bayarnya pakai uang saja, biar lebih simpel tidak perlu bawa-bawa karung beras. hihi :D

    BalasHapus
  10. Kalo aku selalu bayar tunai sih Bang
    Ke Gharin/panitia yang ada di mesjid
    Nanti beliau yang salurkan kepada yang berhak

    Dari dulu sampai sekaranggg

    BalasHapus
  11. Kalau biasa yang kulakukan itu yang menukar uang dengan beras, jadi setiap jiwa dapat 1 karung beras, tapi kadang juga dititipin berasnya di penampungan gitu biar dibagikan saat ada kumpul" gitu.

    BalasHapus

Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel yah. Mohon maaf spam dan link aktif akan dihapus. Terima kasih sobat...👍👍👍

:) :( hihi :-) :D =D :-d ;( ;-( @-) :P :o -_- (o) :p :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (y) (f) x-) (k) (h) cheer lol rock angry @@ :ng pin poop :* :v 100

This Is The Newest Post
Previous article Previous Post