Sabtu, 04 Juli 2020

author photo
Jejakbede.online - Pasaman merupakan kabupaten di Sumatera Barat yang dilintasi garis khatulistiwa. Tepatnya di Kampung Bonjol yang juga terdapat Museum Bonjol.
Museum Bonjol di Titik Khatulistiwa Pasaman - Sumatera Barat

Bagi generasi yang kurikulumnya 90an ke bawah pastinya tahu siapa Tuanku Imam Bonjol. Entah dengan generasi milineal apa mereka masih dapat pelajaran sejarah gak yak😃😃😃.

Negeri kita yang indah ini memang berada di kawasan ekuator. Tiga wilayah yang tepat berada di nol derajat adalah Kampung Bonjol di Pasaman Sumatera Barat, Kota Pontianak Kalimantan Barat dan di Desa Siney (sekarang Desa Khatulistiwa) di Parigi Moutung Sulawesi Tengah.

Baca: Bertemu mantan di Tugu Khatulistiwa Pontianak 
 
Hal yang menarik untuk tugu khatulistiwa atau juga tugu equator di Pasaman adalah karena terletak  bersebelahan dengan Museum Bonjol. Museum ini terletak di tepi jalan trans Sumatera yang menghubungkan Sumatera Barat dan Sumatera Utara.

Tepat di depan Museum Bonjol di jalan trans tersebut terdapat bangunan semacam gapura penanda nol derajat Khatulistiwa dengan tulisan "Anda Melintasi Khatulistiwa".

Tugu Khatulistiwa di Bonjol, Pasaman


Sayangnya saat kami berkunjung ke sana pekan lalu, bangunan ini sepertinya kurang terawat. Kubah dan atap gapura terlihat berlumut dan usang. Cukup disayangkan memang, padahal rasanya ini adalah ikon yang cukup menarik wisatawan.

Kata salah seorang pedagang makanan di sekitar tugu ini, katanya memang karena adanya wabah corona sehingga tempat ini sempat ditutup dan petugas kebersihan juga tidak terlihat bekerja.

Jadi jika kita dari arah Padang menuju Medan maka pada gapura Tugu Khatulistiwa Bonjol Pasaman ini kita melewati batas selatan dan utara bumi. Unik bukan?

Saat pertama bertugas di Sumbar, Kampung Bonjol dan Tugu Khatulistiwa ini merupakan list prioritas kami, selain Jam Gadang pastinya.

Yuk diklik: 

Pertama, di Manado terdapat makam dari Imam Bonjol yang tentunya memiliki nilai sejarah. Rasanya akan sayang banget jika kami selama di Sumbar tidak sempat berkunjung ke tanah kelahiran beliau di Kampung Bonjol.

Nama asli beliau sendiri adalah Muhammad Shahab. Karena lahir dan berda'wah di Bonjol maka lebih dikenal sebagai Tuanku Imam Bonjol.

Beliau sebagai tokoh utama sekaligus pahlawan nasional dalam sejarah Perang Paderi yang berlangsung sekitar 18 tahun. Pada saat itu Belanda cukup kewalahan karena pada saat yang sama di Jawa sedang berlangsung perang Diponegoro.

Akhir dari kedua perang tersebut sama, kedua tokoh pahlawan kita dibuang ke Sulawesi Utara. Bedanya, Imam Bonjol wafat di sana adapun Diponegoro wafat di Makassar.

Saat dibuang, Imam Bonjol hanya sendiri tanpa keluarga dan pengikut sehingga di Manado dan sekitarnya tidak ada keturunan Bonjol. Kampung di mana beliau dibuang dikenal juga sebagai Kampung Bonjol atau Lota di daerah Pineleng.

Adapun Pangeran Diponegoro dibuang bersama ratusan pengikutnya di daerah Tondano, Sulawesi Utara. Para pengikut Diponegoro kemudian banyak yang menikah dengan penduduk setempat yang kemudian keturunan mereka disebut sebagai suku Jaton, singkatan dari Jawa Tondano.

Ok, lanjut... kenapa kami ingin sekali ke sini karena adanya tugu khatulistiwa. Dua tuga khatulistiwa lainnya sudah pernah kami kunjungi, nah dengan ke sini lengkap sudah.

Jika kita bergerak dari arah Padang, butuh sekitar tiga jam perjalanan untuk sampi di sini. Jaraknya sekitar 150an kilometer ke arah utara.

Tenang... perjalanan darat di wilayah Sumatera Barat akan sangat menyenangkan. Pemandangan indah berupa bukit , lembah dan persawahan akan tersaji sepanjang perjalanan.

Karenanya tiga jam perjalanan akan tidak terasa sama sekali, tau-tau aja udah nyampe aja ke Bonjol di mana tugu khatulistiwa dan Museum Bonjol berada.

Museum Bonjol terletak di sisi kanan jalan dari gapura Tugu Khatulistiwa Pasaman ini. Terdapat dalam kawasan Taman Wisata Eqautor Bonjol.

Spot foto di Taman Wisata Equator Bonjol


Dari pintu masuk kita akan menemui persimpangan masuk masing-masing menuju area masjid, akses ke museum dan jalan menuju taman wisata tersebut.

Jalan akses ke Museum Bonjol ditandai dengan gapura dengan keterangan yang cukup jelas. Pada sisi kanannya terdapat tugu kecil dengan bola bertuliskan Equator.

Gapura menuju Museum Bonjol


Tepat di depan Museum Bonjol terdapat patung dengan pose khas Imam Bonjol yang biasa kita lihat dalam buku-buku pelajaran dahulu. Mudah-mudahan masih ada di kurikulum sekarang.
Patung Tuanku Imam Bonjol


Nah meski sudah fase "new normal" saat kami ke sana museum masih tutup. Yah belum beruntung memang saat itu. Sebagai orang fisika yang suka sejarah rasanya kecewa banget tidak dapat mengeksplore isi museumnya.

Seperti informasi di awal artikel ini, karena adanya corona tempat ini belum dibuka resmi. Terlihat rumput di kawasan ini cukup tinggi. Seperitnya petugas kebersihan hanya menyapu daun-daun kering yang ada di jalan-jalan dalam sini.

Padahal di sisi kanan Bonjol ini terdapat fasilitas untuk publik seperti saung  bersantai dan area bermain anak.
Area publik di Taman Wisata Bonjol yang kurang terawat


Tidak banyak yang sempat kami nikmati di sini karena memang hanya mampir sejenak saja. Mudah-mudahan pemerintah setempat bisa segera membuat tempat ini lebih rapi dan bersih.

This post have 22 komentar

Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel yah. Mohon maaf spam dan link aktif akan dihapus.
Terima kasih sobat...👍👍👍

  1. Wah, keren sudah mengunjungi tiga tugu khatulistiwa. Saya saja cuma tahu satu yang di Pontianak. Itupun juga dari artikel saja, belum pernah berkunjung. Jadi ingin menargetkan untuk mengunjungi tiga tugu khatulistiwa ini suatu hari nanti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga termwujud mb. Negara lain aja mb Dyah datangi :)

      Hapus
  2. Benar juga kata bang Day jika dilihat dari foto, infrastruktur di lokasi ini kurang terawat.
    Termasuk tugu katulistiwa terlihat kusam.

    Semoga saja setelah ini maintenancenya diperhatikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas Hima, padahal tempat ini merupakan tempat bersejarah dan juga mendukung ilmu pengetahuan

      Hapus
  3. Iya ya, itu tugunya benar-benar tidak terawat. Sangat disayangkan.
    Wah disana sudah new normal ya, disini masih diperpanjang
    Kalau dekat, saya juga pengen kesana
    Tokoh idola saya tu, Imam Bonjol.
    Anak jaman new, aduh kemungkinan tidak mengenalnya :D

    BalasHapus
  4. kayaknya memang butuh perhatian lebih ya supaya menjadi lebih cantik tempatnya

    BalasHapus
  5. Memang seharusnya tetap dirawat meski masih masa pandemi ya, jadinya yang mengunjungi tempat ini lebih nyaman dan tertarik melihatnya

    BalasHapus
  6. Udah lama ga main ke blog Bang Day. Ternyata bang Day sering ulas tentang Sumbar haha.

    Tapi tadi di awal malah salfok sama tag Sumatera Utaranya.

    Sayng memang beberapa tempat wisata di Minang terkesan kurang terawat.

    BalasHapus
  7. asik ya bang bisa keliling keliling menikmati pemandangan yang asik, dan memiliki nilai sejarah sehingga selain jalan jalan mendapatkan pelajaran

    BalasHapus
  8. Aku belum pernah ke sini bang huhuhu

    Semoga suatu hari deh

    BalasHapus
  9. Waduh kurang sejarah nih, baru tahu saya kalau Imam Bonjol diasingkan ke sulawesi, hehehe

    BalasHapus
  10. Selalu seru emang belajar sejarah bareng bang de ini. Jadi nambah tahu tentang tuanku Imam Bonjol
    *ketahuan aku sering ketiduran kalo pejaran sejarah wkwk

    BalasHapus
  11. masih dan selalu baper kalau berkunjung ke blognya bang day, kepingin ikutan rombongan jalan jalan biar tahu keindahan wisata dan budaya indonesia

    BalasHapus
  12. masa sekolah dulu pun kami belajar tentang Imam Bonjol, tau! ;-)

    BalasHapus
  13. iya ya rumputnya terlihat sudah tinggi gitu, efek corona petugas kebersihannya juga jarang muncul dan nggak sempet membersihkan si rumput liar ini
    aku sampe lupa sejarah imam bonjol, ternyata beliau lahir di wilayah kampung bonjol sana.
    suatu kebanggaan tersendiri kalau bisa mengunjungi 3 daerah yang dilalui garis khatulistiwa, semoga nantinya ada kesempatan main di salah satu wilayah ini

    BalasHapus
  14. udah rindu jalan-jalan aku bang day. tapi membaca tulisan seperti ini rasanya sudah ikut jalan-jalan dan terasa kesegarannya juga hehe. wah baru tau kalau nama asli beliau muhammad shahab. terima kasih infonya bang day. dulu waktu sejarah di sma lupa saya ke mana :D

    BalasHapus
  15. Jaman sekolah dulu aku juga pecinta sejarah, apalagi anak IPS wkwkwk tp skrg udah banyak lupa. Btw ini Imam Bonjol ini meninggalnya karna apa ya bang? aku lupa. Kalau dilihat dr patung kudanya, 1 kaki kuda terangkat artinya pahlawan tsb meninggal karna luka akibat peperangan tapi beliau meninggal thn 1864, sedangkan perang paderi sendiri sekitar thn 1837an gitu, atau mungkin waktu di Sulawesi ada perang lagi kali ya. Loh kok malah bahas sejarah wkwkwkwk

    BalasHapus
  16. oh ya... masih ada lagi ke keturunan Imam Bonjol sekarang yang masih hidup?

    BalasHapus
  17. Wah, aku baru tau ada 3 tugu khatulistiwa, dikira cuman ada di kalbar aja #kuranggaul. baru tau juga soal nama asli pangeran iman bonjol euy. beruntunglah yang sempet ke tanah kelahiran beliau

    BalasHapus
  18. ._. Monmaap, dari foto tempatnya agak kelaiatan seram... apalagi yg bagian bermain anak.

    BalasHapus
  19. Ini bukan karena pas libur ya makanya kok kayak nggak keurus gitu Bang?
    Btw ngakak baca "Mudah-mudahan masih ada di kurikulum sekarang."
    Saya juga kadang khawatir membayangkan banyak hal yang akhirnya hilang, mengingat sekarang bahkan pancasilapun mau diubah *eh :D

    BalasHapus
  20. Nampak usang bangunan muzium ni. sayang sekali taman tu tidak dijaga.

    BalasHapus
Next article Next Post
Previous article Previous Post

---------- Label -----------

Cenderamata (3) course (3) Danau (2) Experience (18) Festival (2) Finance (5) Flight (4) Formal Dinner (2) Heritage (16) Hotel (15) Info (2) Journey (9) Kuliner (4) Lounge (7) Pantai (8) Reward (3) Spirit (7) Story (40) Study (5) Sunset (3) Taman (7) Tips (10) Vacation (27)