Kamis, 09 April 2020

author photo
Jejakbede.online - Berawal nonton di Flik TV film Sang Pemimpi yang merupakan sekuel Laskar Pelangi jadi terkenang pengalaman pertama kali merantau ke Jakarta.

Terus seminggu kemarin baca kegabutan mas Wisnu Tri yang sampe meriang saat ke Jakarta. Cerita ini makin bikin saya melow ke masa lalu hehe.

Judul blog ini halu yah karena pada saat itu saya masih sendiri, belum laku dan tentunya belum punya si buah hati. Psst sekalinya laku  di kemudian hari malah beda keyakinan πŸ˜πŸ˜πŸ˜.

Dan pada tulisan kali ini tidak banyak dokumentasi pribadi yang relevan yah karena pada jaman itu kamera hanya milik golongan menengah atas. Saya sendiri sih bukan golongan yang berada di bawah garis kemiskinan. Tapi tepat di garisnya.

Saat pertama ke Jakarta dulu saya masih menemukan dan menikmati bis ini. Jadi udah kebayangkan seberapa tuanya sayah 🀣.
Bus patas jaman saya muda. Foto: https://lifestyle.okezone.com/read/2019/06/14/406/2066642/5-foto-bus-jadul-yang-bikin-rindu-jakarta-tempo-doeloe

Tekad ke Jakarta bulat karena saya ini melihat ibu kota yang cuman saya tahu dari tipi. Dan jalan ke sana terwujud karena saya keterima di sekolah kedinasan.
Ceritanya di sini: 4 Alasan Memilih Kuliah Pada Sekolah Kedinasan

Beda dengan cerita di Sang Pemimpi yang naik kapal barang, saya lebih beruntung bisa naik Kapal Pelni. Saya lupa saat itu naik kapal Kambuna apa Umsini. 

Kapalnya emang warna dan modelnya sama dan keduanya pernah saya tumpangi saat beberapa kali mudik Jakarta - Palu.
KM Umsini yang pernah melayani rute Palu - Jakarta. Gambar: http://port-of-arar.blogspot.com/2014/03/24-kapal-penumpang-pt.html

Lama perjalanan 4 hari dan 4 malam dari pelabuhan Pantoloan Palu hingga merapat di pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.

Kapal ini untuk ukuran saya seperti hotel berjalan. Penumpang terbagi menjadi 5 "kasta", mulai dari ekonomi, kelas 4 hingga kelas 1.

Untuk yang ekonomi setiap penumpang mendapat satu ranjang dalam ruangan bersama yang besar yang bisa sampai puluhan ranjang. Makannya ngantri di pantri. Ramailah.

Tapi sebenarnya dengan jadi penumpang kelas ekonomi kita justru akan bakal banyak dapat teman. Karena selama beberapa hari kita akan bertemu banyak orang yang seruangan kamar dengan kita.

Untuk penumpang kelas 4 mendapat kamar yang diisi delapan orang. Kelas 3 berisi enam orang dan kelas 2 berisi 4 orang.

Yang paling elit kelas 1  yang hanya untuk dua orang dengan kamar yang dilengkapi kulkas dan kamar mandi sendiri. Harga tiketnya setara tiket pesawat. saat itu tidak ada tiket pesawat murah lo. Kalo sekarang sebanding dengan tiket Garuda.

Tiket mahal, malah bisa mudik lebaran pakai tiket gratis Garuda 

Untuk penumpang kelas, makannya di restoran kapal di mana kelas 4 dan kelas 3 restorannya jadi satu. Untuk kelas 2 dan kelas 1 juga digabung tersendiri. 

Pada jaman itu kapal Pelni adalah primadona karna belum ada maskapai murah yang menyediakan tiket pesawat yang terjangkau.

Saat itu sih asik-asik aja naik kapal sampai empat hari dan empat malam. Selama itu kita bisa kenal banyak orang yang sering bertemu di tempat makan atau juga ketika bersantai di anjungan kapal.

Hiburan? di dek atas terdapat bioskop untuk para penumpang yang ingin menghabiskan waktu dengan menonton film.

Hiburan lain numpang dengar lagu yang disetel penumpang yang membawa tape compo. Ada yang ingat tape jenis ini? 

Pada jaman itu untuk remaja seperti saya yang hit adalah lagu-lagu dari Dewa19, Sket, U Camp, Whizzkid, Bayou, Vodoo, Slank dan lainnya. Kalo ada yang tahu grup musik ini berarti kita seumuran bro.

Satu lagu yang bikin melow saat naik kapal ke Jakarta waktu itu adalah lagu dari Whizzkid "Jalan Panjang".

Cukup lama sudah kutinggal kan semua yang aku cinta
ayah ibu saudara yang jauh di sana
berbekal do'a yang ibu sematkan iring kepergianku
ku buang segala ragu yang coba usik tekad ku
Kenyataan kini yang kuhadapi hidup di kota besar
tak semudah apa yang aku bayangkan
walau begitu kutak menyerah hadapi semua itu
ku terjang halangan ku halau rintangan yang ada
kan ku raih cita cita
yang ku tanam dalam jiwa

Wuih setiap menjelang malam mau tidur selalu terbayang ortu yang mengantar ke pelabuhan kemudian melambaikan tangan hingga kapal kami tidak terlihat oleh mereka. 

Ortu tentu sangat was-was karena saya belum pernah ke Jakarta sebelumnya. Mereka khawatir saya nyasar atau hilang. Hanya doalah yang jadi harapan.

Mungkin kalo sampe hilang ortu saya akan bikin pengumuman begini. 
Telah hilang seorang anak remaja dengan ciri-ciri kurus, rambut ikal dan membawa sendok. Jika ditemukan tolong sendoknya dikembalikan.

Demi keamanan selama di kapal, uang bekal dari ortu semuanya saya masukkan di celana pendek kemudian dikunci dengan peniti😊. Baru kemudian saya pake celana panjang. 

Hanya uang untuk kebutuhan-kebutuhan kecil selama 4 hari di kapal yang ada di dompet yang ada di celana panjang.  

Saya hanya membawa buku tabungan yang isinya hanya saldo minimal, karena ortu khawatir saya nanti kesulitan menarik uang via buku tabungan jika sudah di Jakarta. Dulu belum ada yang namanya ATM tapi entahlah mungkin untuk orang kaya mungkin sudah punya hehehe. 

Selama empat hari empat malam kapal menyinggahi beberapa kota. Ini menjadi hiburan tersendiri karena melihat kesibukan penumpang yang turun naik.

Saat berangkat dari Palu seingat saya pada malam hari dan besok paginya kapal sandar di pelabuhan Balikpapan. 

Dari sini saya ketemu beberapa teman seumuran yang juga mau ke Jakarta. Kami bertemu di kantin kapal saat beli cemilan. Belum ngerti yang namanya ngopi di kafe.

Pagi berikutnya kapal sandar di Makassar. Teman akrab saya yang sama-sama berangkat dari Palu turun di sini. Dia keterima di sekolah pelayaran di Barombong Sulawesi Selatan.

Sejak itu saya mulai merasa sepi. Karena teman akrab saya yang juga sekelas dari SMAN 1 Palu udah gak ada. Dia teman main ngeband dan juga saat ikut-ikutan jadi pecinta alam meski kami hanya sempat dua kali naik gunung yang ada di Palu.
Arsip bersama teman akrab saat belajar jadi anak band. Dia vokalisnya. Yang lain megang gitar, saya bagian megang listrik😁

Di kamar kapal tersisa penumpang lain yang berangkat dari Manado. Mereka adalah abang-abang yang udah lama kuliah di Jakarta.

Untungnya mereka ramah, banyak memberikan informasi tentang Jakarta. Sedikit memberikan gambaran kepada saya.  Cuman karena usia mereka udah terpaut agak jauh, hari-hari selama di kapal saya sering habiskan bersama teman-teman yang saya kenal yang dari Balikpapan tersebut.

Hari ketiga kapal tiba di Tanjung Perak Surabaya. Saya tiba berani turun berjalan-jalan di pelabuhan meski kapal sandar sampai lima jam. Jadinya cuman ngelihat keramaian orang yang turun naik kapal dari dek atas.

Saat itu film Titanic belum rilis, jadinya saya belum punya inspirasi nyari kenalan cewek di kapal 😁.  Dua tahun kemudian setelah ada film Titanic saya malah parno naik kapal.

Nah pagi keempat kapal sandar di Tanjung Priok Jakarta. Segera saya turun mengikuti rombongan anak-anak pramuka dari Palu yang ada kegiatan di Jakarta. Kebetulan salah satu guru pendamping mereka masih kerabat jauh ibu saya.

Hari itu saya diajak dulu ke tempat rombongan pramuka tersebut. Sorenya baru saya di antar ke kampus saya yang dulu di Prapatan Tugu Tani.

Jangan tanya deh gimana rasanya ngelihat gedung-gedung tinggi. Apalagi kampus saya dekat dengan area Monas. Sudah tentu tujuan pertama ya ke situ.

Tapi lama-lama bosan juga karena enam bulan pertama kami latihan dasar di area Monas tersebut. Jadi gak sakral lagi.
Satu momen saat latihan dasar di halaman Monas tahun 90an 

Satu hal yang menyenangkan teman-teman kuliah di sekolah kedinasan di Jakarta ini berasal seluruh Indonesia. Dan saat penempatan tugas kami disebar pula ke seluruh Indonesia. Ada yang beruntung bisa pulang kampung ada pula yang ke kota lain.

Nah apalagi yang saya lakukan saat pertama di Jakarta? Ke Atrium  Senen karena itu mal terdekat dari kampus. Selanjutnya ke Blok M meski saya agak kecewa, di film-film itu tempat gaul anak muda Jakarta kok cuman terminal 🀣.

Dulu di Jakarta ke mana-mana ya naik bis kota. Tarifnya kalo gak salah umum Rp.350 perak. Untuk pelajar dan mahasiswa Rp.100 perak. Harga seporsi nasi plus ayam sekitar seribu rupiah.

*********
Nah kalo jaman milenial seperti sekarang ada yang pertama kali mau ke Jakarta, berikut tipsnya.
  • Manfaatkan transportasi online untuk mencari alamat tertentu. Karena jika kita naik transportasi umum sedikit repot karena harus berpindah-pindah moda transportnya.
  • Jika sudah mulai hafal lokasi beralihlah ke transportasi umum, selain lebih murah kita juga sudah membantu mengurangi kemacetan.
  • Alokasikan waktu agak lebih karena trafik di Jakarta sangat padat dan hampir selalu macet.
  • Waspada, sebagaimana kota besar lainnya tingkat kejahatan juga tinggi seperti copet, jambret dan penipuan seperti hipnotis

*********

Baiklah, biar masih relevan dengan judul artikel ini saya lanjutkan ceritanya. Saat sudah nikah dan memiliki anak satu saya mendapat tugas belajar ke sebuah PTN di Depok. Tentunya ini peluang untuk masa depan kami.

Istri dan anak saya boyong dari Manado ikut ke Depok. Itulah menjadi pengalaman pertama mereka bisa menginjakkan kaki ke Jakarta karena ikut hijrah sementara ke Depok. 

Kuliah istri diselesaikan di Depok juga. Selama dua tahun tugas belajar, buah hati yang kedua kami lahir. 

Jadilah setelah dua tahun tugas belajar kami dapat dua ijazah dan buah hati juga jadi dua orang. Sekarang kami hidup nomaden dari satu kota ke kota yang lain.

This post have 93 komentar

Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel yah. Mohon maaf spam dan link aktif akan dihapus.
Terima kasih sobat...πŸ‘πŸ‘πŸ‘

  1. waw, aku juga pernah naik bis patas itu bang day.. tapi Alhamdulillah umur ku sih masih muda karena tarifnya bukan 350 rupiah. wekekek.. yaampun itu kayaknya aku belum lahir deh, naik patas 350 perak.. hihi.. :D

    wah, ternyata bang day pernah tinggal di depok ya.. sampai sekarang masih nomaden? tinggal dimana sekarang bang day? *kepo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tahun terakhir saya di Jakarta tahun itu Patas 800 perak kalo gak salah. Wah mb Thya kelahiran thn 2000 yah hehehe.

      Ya kami pernah 2,5 tahun di Depok. Trs balik Manado, pindah Lombok lalu Pontianak dan sekarang di Sumatera mba

      Hapus
    2. aku tahun 90an bang day.. hihi..
      mungkin waktu tarif segitu, aku masih kecil banget, jadi blm ngerti brp tarifnya.. hehehe..

      kalo pertama kali naik patas sendiri, tarifnya itu 2000an.. hehe

      Hapus
  2. Hampir mirip dengan kisah saya saat ke Jakarta.
    Tali saya naik kereta , sungguh luar biasa sekali desak desakan saat itu. Terpaksa kebagian berdiri di kamar kaecil.
    Dulu Jakarta emang kota primadona.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah saya ngalamin desak2n juga naik kereta saya main ke beberapa kota di Jawa. Mo naruh kaki sebelah aja susah banget

      Hapus
  3. Rada ada kemiripan dengan ceritaku saat tiba di Jakarta, gimana sempat terkaget-kaget juga lihat penampakan bus patas yang kelihatan jadul.
    Dalam hati mbatin 'ini Jakarta tapi kok bus nya kalah terawat sama bis di daerah ?'.

    Aku pernah loh berenang di sekolah pelayaran yang tempat bang Day menimba ilmu ...

    Kalau dari arah belokan pasar baru ke arah Ancol, lokasi gedungnya berada di sebelah kiri, kaaan 😁 ?.

    Seingatku, aku pernah berenang disana 5 kali πŸ™‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kampus saya bukan yang di situ mas. emg benar ada sekolah kedinasan di situ tapi itu yang akademi pelayaran.

      Kalo sekarang ya bus patas yang kinclong2 kan mas

      Hapus
    2. Oh, gitu ya.
      Terus lokasi sekokahnya dimana sih ?.

      Ya,barangkali saja ada sodaraku yang punya minat ngikutin jejak ambil kuliah seperti bang Day.

      Hapus
  4. buset di jakarta dulu harga duit 100 perak berarti besar ya :( skg beda jauh krn inflasi hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. puluhan tahun lalu mas, gaji PNS 60 ribu perak :)

      Hapus
  5. MasyaAllah fotonya bus patasnya membuat kangen. Zaman masih kecil, hehehe. Ceritanya keren pak. Mantap

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah sekarang dek Litha masih abg dong, kan busnya blm lama transformasi :)

      Hapus
  6. Baca perjalanan ke Jakarta ini jadi ingat ungkapan kawan2; ibukota lebih kejam daripada ibu tiri wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha betul mba, hidup di jakarta harus tegar

      Hapus
  7. Wah ga kebayang ke jakarta naik kapal laut 4 harian bang, saya aja yg nyebrang bakauheni lampung ke merak aja dua setengah jam klo naik kapal laut yg umum aja suka ga betah, lamaa banget rasanya... Tpi ini pengalaman yg ga bakalan terlupakan...apalagi buat menggapai cita" kesulitan aja bisa dilalui

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya mau gmn lagi mba, saat itu gak sanggup beli tiket pesawat :)

      Kalo saya menikmati lo penyeberangan feri saat tinggal di lombok. Suasana laut bikin hati plong

      Hapus
    2. Kalo ombak dan angin lautnya lagi tenang sih enak yaa, tapi pas ombak gede angin kenceng sy juga parno sendiri, soale pernah ngalamin sampe kapal goyang ,duuh kepala pusing jadinya

      Hapus
  8. Ya Allah, 350 perak. Sekarang cuma dapet permen satu. Itupun permen "maksa" dari kasir supermarket yang nggak punya recehan :D

    Ternyata enggak cuma saya yang terkagum-kagum sama gedung-gedung saat pertama kali tiba di ibu kota. Hehehe. Jaman itu Jakarta udah macet kaya sekarang belum, bang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jaman itupun sudah macet mas gak beda jauh ma sekarang.

      Hapus
  9. Wakakaka, bang day aku tahu loh tape compo kayak gimana, itu loh yang biasa dipanggul di atas pundak hahah #ngalami berarti tapi aku besar di tahun 90an, oh ya btw pengumuman pengandaiannya kenapa musti ada bawa sendoknya segala ya, hahahahh

    Eh aku tau ini judule ada hawa hawa lagunya pance s pondang loh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kok tau Pance segala mba. Pasti sering denger ortunya nyanyi ya :)

      Klo besar 90an berarti mb Nit termasuk generasi bahagia ya, mengalami semua keindahan tanpa teknologi

      Hapus
  10. Btw cara nyimpan uang saku pas masih sekolahnya sama kayak saya bang, yaitu di saku celana pendek didoble rok atau celana lagi hahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo sekarang cukup scan barcode yah mba

      Hapus
  11. pengalaman yang gak terlupakan ya mas, bisa jadi cerita di blog, gw paling suka naik kapal, tapi kalo sampai empat hari gitu pasti pusing dan bosen juga ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum nyobain sih mas Khanif, serasa lagi di hotel aja kok :)

      Hapus
  12. murah banget transportasi dulu ya, saya waktu kecil minimal 200 baru bisa jajan es krim ckck

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebeanrnya kalo dibandingin thd misalnya harga sembako sama aja sih

      Hapus
  13. Temanku juga pernah cerita naik kapal dari Tanjung Priok itu banyak kesan mendalamnya, dan seru. Hanya aja daku belum kesempatan naik dari situ, pernahnya dari Merak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eamng seru mba, kita kenal banyak orang baru kemudian bisa menikmati sunset dan sunrise setiap hari

      Hapus
  14. Eehh dulu bang Day Depoknya dimana bang..???? πŸ˜‚πŸ˜‚

    Era 90,an Memang orang2 sebrang lebih memilih kapal laut untuk keJakarta. Karena Dulu maskapai penerbangan tidak banyak dan semudah sekarang yaa bang.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


    Kalau saya kebalikannya bang dari Jakarta disuruh tinggal dimakasar sama orang tua. Waktu itu masih SD saya. Diajak naik Kapal laut bawaannya sinis sama orang...Karena saya berpikir Makasar itu dulu daerah pedalaman dan tidak seindah Jakarta. Meski kenyataannya tidak demikian.

    Dan selama setahun diMakasar saya tidak punya teman karena saya orang nya jutek dan galak jadi ditakutin saya dulu disana sama teman2 sebaya.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


    Hingga saya tidak betah dan balik lagi Ke jakarta.

    Beda pas zaman kuliah kemakasar lebih sering naik pesawat biar lebih cepat, Cuma sayangnya Makasar tak semenarik waktu saya SD dulu.πŸ˜‚πŸ˜‚

    Dibilang nyesel nggak .....Dibilang nggak, Yaa Nyesal juga.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Dalam artian tidak pernah merasakan remaja didaerah sebrang Atau pacaran dengan gadis2 daerah sebrang.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tepatnya di Pocin om. Ternyata kang Satria dulu songong ya wkwkwkw.

      Ya dulu gak ada penerbangan murah jadinya kapal lautlah primadona. Kalo di Jawa masih ada kereta api yang menghubungkan semua wilayah. Di Sulawesi jalur darat ya terbatas juga.

      Ini gmn sih nyesel gak nyesel :P

      Hapus
  15. ngeliat foto lama seperti ini seperti flasback lagi ya, dulu harga masih pada murah, sekarang beda jauh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo dibandingkan harga sekarng kayaknya emg murah tapi pada saat itu ya lumayan juga :)

      Hapus
  16. Waaah masih ada aja foto2 lama itu ya. Murah banget astaga ongkosnya 100 rupiah. Hehehe. pas di masa itu kondisi kapal penuh banget apa nggak ya? Soalnya kan ada masanya orang2 naik ke atas gerbong kereta. Kalo kapal gimana mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo lagi musim mudik lebaran ma liburan sekolah yah sesak mas, kadang hanya dapat tempat di lorong-lorong kapal. Sama kayak kereta

      Hapus
  17. Duh kalo lihat foto-foto lama kadang bikin bernostalgia yah kak.

    Semangat terus nih kak yang hidupnya nomaden. Oiya salam buat si adik kecil, ada tante unyu dari palembang haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam balik tante unyu...
      Tahun kemaren saya sempat menjajal LRT Palembang lo

      Hapus
  18. Baca pengalaman naik kapal Pelni, aku juga jadi pengen tahu rasanya menyeberangi laut pakai kapal Pelni juga, Bang. Apalagi kalau katanya kapal Pelni macam hotel gitu. Sekali pernah naik kapal itu juga pake kapal feri. Bukan menyebrangi laut, tapi cuma menyeberangi selat.πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. kapal Feri kecil mba, kalo kapal pelni ukurannya beberapa kali kapal feri. Gak bakal terasa kalo lagi naik kapal :)

      Hapus
  19. Mantap dan seru pengalaman bang Day,
    Ingatan bang Day juga kuat tentang harga tiket dan nilai uang saat itu, sedih ya, betapa sekarang Rupiah anjlok purchasing power-nya :(
    Group bandnya keren...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya punya memori jangka panjang yang bagus mba tapi lemah soal jangka pendek. Jadi suka linglung sekarang wkwkwkw.

      Band anak2 fisika

      Hapus
  20. Sepertinya yang komentar ini umurnya seangkatan semua bang.. hihihi. Apalagi kalau sudah kenal sama UCamp, beeh itu mah hit banget, anak milenial mana tahu itu. Jangan-jangan kita seumuran ini hahaa...

    BalasHapus
  21. ngebayangin banget, gimana jakarta tahun 90an silam ya ampon :D kayaknya keren dah.

    BalasHapus
  22. Jadi inget aku bang. Aku udah mu 3 tahun tinggal di Tangerang Selatan. Jadi inget pertama kali pindah ke sini dari Bandung, rasanya itu nggak nyamannnnnn banget. Tapi demi membersamai suami aku mau ikut kemanapun ia dipindahkan. Aku jadi suka event blogger juga ke jakarta. Jadi banyak job juga ternyata kalo tinggak di jabodetabek allhamdulillah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya suka kata2nya "membersamai".. suit suit hehe.

      Alhamdulillah kalo rejeki makin lancar mba

      Hapus
  23. Patas is a great transportation in Jakarta ;)

    BalasHapus
  24. Cerita masnya berlatar waktu saat aku saja belum dibikin dan masih berwujud roh wkwkwk pengen banget naik kapal pesiar, liat matahari terbit dari tengah lautan pasti indah banget, liat sunsetnya juga. Impianku naik kapal pesiar!!.

    Aku juga pengen sekali menetap di ibukota. Pernah sekali kesana, tapi yang didapatkan cuma sakit hati. Jadi aku berpindah haluan ingin menetap di Bandung aja wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas, sunrise dan sunset sepaket bisa kita nikmati dalam satu hari. Sayang kamera belum puny saya saat itu.

      Wah sakit hati kenapa nih di ibu kota

      Hapus
  25. Wih pengalamanya,bener - bener kayak di film petualangan gitu.Saya juga pengen suatu hari bisa naik kapal pelayaran panjang.Soalnya selama ini paling lama sekitar 3-4 jam menyebrangi selat sunda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. pelayaran 3-4 jam juga ok, apalagi kalo ketemu sunset pasti romantis tuh.

      Hapus
  26. Wah begini ya bisa jaman dulu, belum pernah saya mencobanya. Begini ternyata suasana tempo dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenang, 10 tahun lagi apa yang bang Ridsal posting saat ini udah bernilai tempo dulu hehehe

      Hapus
  27. Wahh biar sedih tapi itulah pengalaman.. Saya juga punya kisah yang mirip. 4-5 hari di KM. Awu dari Flores ke Denpasar. Sedih sedu menyayat hati pokoknya pas ingat orang tua, hahaha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantap juga tuh perjalanannya bang, bisa diceritakan di blog lah. Apalagi laut di timor indah2

      Hapus
  28. bang day ini memang sukanya cerita ngalor ngidul, tapi bermakna dan tentunya tetap kesan dan pesan yang disampaikan. Teringat saat membaca artikel beda keyakinan dipantengin sampai akhir eh taunya zonk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh masih ingat aja soal beda keyakinan hehehe. Trims kunjungannya mba

      Hapus
  29. Hehe patas jurusan kampung melayu tanjung priok.
    Barangkali kita selevel, soal gembelnya saat itu hehehe, tetapi saya kira hidup terus berputar, seperti roda bis patas itu kan, dulu berada pada titik nol boleh dibilang nadir, sekarang malah sudah malangbuang jauh ke sana kemari, bahkan sampai Eropa abang melangkah. jadi jelas kata pepatah usaha tidak akan pernah menghianati hasil akhir, dan tentu doa orang tua yang mengiringi jalan panjang itu.

    Semoga ini menjadi kisah, kelak para junor dari darah yang sama bisa melangkah jauh seperti abang, salut pejung keluarga...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo dulu saya naik bisnya deket aja, Pramuka ke Patung Tani. Masih di Jakpus.
      Ah soal bisa ke LN itu lagi beruntung aja bang Martin. Karena pintar penctiraan kata teman2 saya.

      Ibu kota memang impian orang2 daerah yah walopun ternyata harus berdarah-darah hehehe.

      Hapus
    2. 'Berdarah - darah' πŸ˜† saya setuju kata itu bang. Soal pencitraan sebagai gambaran diriπŸ˜†πŸ˜† tidak apa - apa to asal positif dan tidak merugikan orang lain.

      Patung tani ada penunggunya ituπŸ˜„πŸ˜„ penunggunya dari Jakarta Utara, si manis jembatan AncolπŸ˜„πŸ˜„

      Hapus
  30. Saya pertama kali ke Jakarta ikut rombongan kampus dari Yogya. itu pertama kali liat istiqlal yang megah.rasnya campur aduk

    soal kapal PELNI, berkesan bgt emang. jaman dl emang pelni lah andalan ke jawa. saya sama teman2 yang mau kuliah ke yogya ya naik kapal dari banjarmasin ke surabaya atau semarang. hbs itu nymabung nge bis. ingat banget sama piring ompreng dan makanan kapal yang bisa dibilang "asal" soalnya mahasiswa ya naik yang kelas ekonomi.masuknya juga berdesakan banget..hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya ya, saya juga ngalamin itu mba karena lebih sering naik kelas ekonomi. Ngantri makan dan desek2an mau naik karena mau rebutan tempat tidur.

      Wah mantap mb Enny nih dari kalimantan merantau ke YK, emg tujuan orang2 untuk sekolah n kuliah yah

      Hapus
    2. iya bener rembutan tempat tidur :) inget juga makanannya telor dadar yang kayaknya ditepungin banyak bgt. ..hahaha, kalau malam2 enak bgt nongkrong di atas kapal, memandang laut yang kayaknya gak ada ujungnya hehe. Kalau ombak lg gede, banyak yang mabox laut juga hahahahah...

      kalau skrg kok naik kapal PELNI kayaknya takut yaa..hadeh

      iya Bang, kenangan merantau nggak bakal lupa :)

      Hapus
  31. Waduh, saya malahan belum pernah ke monas bang, cuma lihat dari jauh ketika lewat jakarta naik bis...
    harusnya sempat mampir tuh dan foto disana...
    hehehe...

    sekarang buat grup band lagi bang, sama anak-anak..
    hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emg dari mana ke mana Bli naik bis lewat monas? Wah anak2 gak ada yang bakat musik bli hehe

      Hapus
  32. Jadi inget awal pertama kali ke Jakarta 2010 cuma lewat doang. Dan 2014 akhirnya melanjutkan pendidikan di Jakarta.

    Betul sih Jakarta itu keras. Tapi Jakarta ini bagaikan mimpi bagi anak-anak merantau untuk menggapai cita-cita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. 2010 tuh berarti masih SMP ya eh apa 2014 lanjut s2/s3?

      Ya idaman orang daerah bisa merantau ke Jakarta mba

      Hapus
  33. aku ke jakarta paling cuma mampir atau lewat mas, kalau ada acara study tour atau berkunjung ke jawa.
    Dulu seingatku kalau ada yg kerja di jakarta pasti dicap orang sukses, apapun kerjanya. ga heran banyak org antri ke ibukota. tapi kalau sekarang ga seperti dulu sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Liat macetnya jadi malas mampir wisata ke Jakarta yah.

      Iya mba bisa ke Jakarta kerenlah bagi kita yng dari daerah

      Hapus
  34. Sebelum bang day nyebut titanic, saya udah kebayang duluan.
    Baca ceritanya bang day ini rasanya kayak lagi baca novel. Tahu-tahu udah selesai. Untungnya doa orang tua terkabul ya bang, jadinya nggak perlu bikin pengumuman buat nyari sendoknyaπŸ˜‚
    Sukses terus bang....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya mungkin ukuran gak sebesar Titanic mba tapi udah besar banget ut ukuran saya. Sendoknya aman mba :)

      Hapus
  35. Wkwk nano nano baca artikel ini. Bagai dilempar ke masa abg. Naik patas dulu mewah, paling mengerikan naik bus Mayasari karena asapnya hitam. Btw Bang Daya pernah di Depok, Depok mana itu? Saya dan keluarga sekarang stay di Depok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kami sempat tinggal di pondok cina mba, pipa gas belakang tembok UI :)

      Ya ya Mayasari emang kala itu kurang terawat

      Hapus
  36. wakakakakakakakakaka, astagaaaaa, hampir ngompol saya bacanya Bang hahahahahahahahhaha.
    Yang pertama, mungkin ini agak bikin BangDay besar kepala.
    Tahu nggak saya kira BangDay itu hampir seumuran dengan saya loh, ternyataaaa masih diatas saya hahahahahaa..

    Means BangDay awet muda dong cieeehhh hahahaha

    Yang kedua, ya ampuuuunnn, saya jadi ingat 20 tahun lalu ke Surabaya, saya juga naik kapal Pelni dan ambil ekonomi.

    Bedanya, saya dianter bapak saya sih, ye kan saya cewek.
    Terus saya merasa lagi antri di pantri RS, soalnya tante saya kerja di RS, dulu kami sering main di RS dan sering liat para pasien dikasih makan di piring kayak gitu.
    Belakangan saya tahu, di penjara juga piringnya gitu hahahahaha.

    Terus, pas mau ke Surabaya tuh semuaaaaa tante-tante saya heboh ingatin banyak copetlah ini lah, itulah..
    Sampai saya disuruh jahit kantung dalam celana ketat.

    Dan iyeeesss, uangnya saya taruh di kantung yang ada di bagian dalam celana saya berlapis-lapis itu (untungnya sih bukan di CD) hahahahahah.

    Dan ternyata emang jarak palu itu sama ya kaya dari Buton.
    Saya juga menghabiskan 2 malam ke Surabaya.
    BauBau-MKS 12 jam.
    MKS-SBY 24 jam

    Kalau lagi ombak gede, mendekati Surabaya atau masuk ke MKS itu serem abis goncangannya.

    Oh ya, setahu saya Titanic itu rilis saat saya masih SMP atau STM ya, jadi bisa membayangkan betapa seniornya BangDay ini hahahahah.

    Oh ya Bang, itu foto di Monas, ada cewek di depan itu cantik loh, itu bukan pacar BangDay kah?

    *kaboooorrrrrrr :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenapa sih tiap komen di saya musti ngakak mulu uh uh.

      Wah saya gak geer mba karena yang saya posting emg foto 5-10 tahun lalu biar keliatan awet muda wkwkw.

      Katanya kuliah di sipil mba, kok ambil ekonomi sih. #eh

      Ternyata tips nyimpan duit dalam saku di celana di dalam celana lagi emg mainstream yak :D

      Hapus
    2. yaampun.. baca komen mba rey malah aku yg pengen ngompol ini mah.. wakakak..

      "saya kira bang day seumuran saya, ternyata masih diatas saya" wekekek..

      ngikik banget ya alloh mba rey 🀣🀣

      Hapus
  37. Aku belum pernah Bang naik kapal. Kira2 sekarang masih ada gak sih? Pengen gitu sekali seumur hidup cobain naik kapal, buat pwngalaman. Kalo denger pengalaman orang mengalami mabuk laut, suwer belum pernah sekalipun merasakan. Paling banter cuma naik feri penyeberangan di Bali atau di Pontianak hahaha melas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah pernah ke Pontianak mb? wah saya pernah liburan 3 tahun di sana. Ya 3 tahun hehe.

      Kalo naik kapal pelni jaman itu, saking besarnya ukuran kapal rasanya ombak gak terlalu terasa sih

      Hapus
    2. Loh kok sama, aku jg cm pernah naik kapal sby pontianak. Dan skr mudiknya nyebrang selat bali wkwk. Salam kenal mba

      Hapus
    3. Kapan tuh ke Pontianaknya mba

      Hapus
  38. belum pernah lagi sampai ke indonesia, apatah lagi jakarta. hope one day dapat jejak kaki ke sini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah setelah badai covid berlalu Cik dapat berkunjung ke Indonesia. Aamiiin

      Hapus
  39. Kayaknya ayah saya sempat punya tuh tape yang dimaksud.

    Gila juga ya tarifnya masih 100 perak. Zaman saya pertama kali naik bus kayaknya sekitar 500-1.000. Sekarang udah 4.000-5.000 kali, ya? Tak terasa waktu berlari dengan kencangnya. Haha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah mas Yoga golongan tajirlah kalo gitu... keren keren keren.

      Ya inflasi membuat semuanya merangkak naik

      Hapus
  40. Waduw disuguhin bacaan sejarah lagi ini , wkwk. Btw, aku juga pernah ngerasain naik kapal ekonomi sby-pontianak. 3 hari 2 malam. Rasanya kek main film titanic wkwkk,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Acara apa sampe bela2in naik kapal ke sana mba.

      Skrg saya justru pengen ngerasain naik kapal lagi, pengen ngajak2 biar mereka tau gmn rasanya

      Hapus
  41. baca ini jadi mengulang memori sha sendiri, pas ke jakarta sendirian pertama kalinya :)

    BalasHapus
  42. Bisnya keren ya,,,yang jadul jadul emang selalu kelihatan keren

    BalasHapus
  43. Lhadalah, 4 hari 4 malam. Bang, terbagi 4 kasta itu bikin aku ngakak, haha. Oh ya, aku takut naik kapal. Naik kapal terakhir dari Surabaya ke MAdura. Jaman aku SD. Takut banget lihat airnya...

    BalasHapus
  44. nostalgia sangat ni... saya juga pernah rasa naik bus dengan tingkap terbuka sebegitu. lagi nikmat rupanya bila tertidur. tahu-tahu sahaja sudah terlepas destinasi hahahaha

    BalasHapus
Next article Next Post
Previous article Previous Post

---------- Label -----------

Cenderamata (3) course (3) Danau (3) Experience (18) Festival (2) Finance (5) Flight (4) Formal Dinner (2) Heritage (16) Hotel (16) Info (2) Journey (9) Kuliner (4) Lounge (7) Pantai (8) Reward (3) Spirit (7) Story (41) Study (5) Sunset (3) Taman (7) Tips (10) Vacation (28)