Kamis, 13 Februari 2020

author photo
Jejakbede.online - Kampung halaman saya lagi ramai dengan berita usaha penangkapan buaya berkalung ban. Usaha ini sebenarnya sudah berlangsung sejak 2016 saat buaya berkalung ban ini mulai sering terlihat.
Buaya berkalung ban di sungai Palu. Gambar saya comot dari: https://anglenews.com/

Usaha pencarian guna penyelamatan buaya berkalung ban tersebut menjadi lebih viral karena keterlibatan Matt Wright, seorang pecinta reptil asal Australia. Ia juga menjadi pengisi acara pada sebuah program TV di National Geographic.

Salah satu aksi Matt Wrangler. Foto: http://natgeotv.com/asia/photo-of-the-day/2019/november/28 

Sebelumnya "Panji Petualang" pada awal 2018 juga turut serta usaha pencarian dan penyelamatan buaya ini. Sayang usahanya tidak membuahkan hasil. Meski sempat memasang jaring di sekitar tempat kemunculannya, buaya tersebut ternyata lolos.

Mengikuti berita di media online sampai hari kedua, tim BKSDA bersama Matt Wright belum menemukan jejak buaya berkalung ban tersebut. Malahan mereka menemukan buaya lain yang berukuran  4 meter.

Saya jadi bergidik karena teringat masa kecil saya di Palu. Semasa sekolah dasar hampir tiap sore saya mandi di Sungai Palu ini bersama teman-teman kecil saya. Saat itu sama sekali tidak ada cerita keberadaan buaya di Sungai Palu

Sebelumnya berita tentang buaya berkalung ban ini heboh karena sering muncul di permukaan dan menjadi tontonan warga. Saat saya menjenguk orang tua tahun 2017, keluarga saya ramai menceritakan tentang buaya ini.

Mereka mengatakan sekarang jadi ngeri berenang di pantai Talise Palu yang biasanya memang menjadi tempat wisata. Buaya tersebut tidak hanya terlihat di sungai Palu, namun kadang muncul di laut sekitar muara sungai.

September 2018 gempa, tsunami dan liquafaksi menghancurkan Kota Palu. Kepedihannya masih terasa hingga kita buat kami. Kehilangan teman dan sanak family menyisakan trauma yang membekas.
Sekeping ceritanya di sini: Tugu Perdamaian Palu, Simbol Rekonsiliasi Sekaligus Tempat Evakuasi Tsunami

Sesudah kejadian tersebut, berita tentang buaya berkalung ban sempat tidak terdengar. Enam bulan kemudian, pada Maret 2019 masyarakat Palu kembali heboh dengan kemunculan lagi buaya tersebut.



Kenangan di Sungai Palu

Sungai Palu membelah Kota Palu menjadi bagian timur dan barat.  Pada bagian timur merupakan pusat perkantoran seperti Kantor Gubernur, DPRD Sulawesi Tengah dan Korem 172/Tadulako Palu.

Bagian barat merupakan sentra pertokoan. Memanjang mulai dari Jembatan Palu 1 hingga terus ke barat. Di sini pula berdiri Palu Plaza yang dulunya merupakan Stadion Nokilalaki.

Pada masa kecil saya, jembatan penghubung antara Palu Timur dan Palu Barat baru ada satu saja. Sekarang sudah ada empat jembatan dan yang paling terkenal adalah Jembatan Ponulele yang terletak di muara Sungai Palu.
Keindahan Jembatan Ponulele di muara Sungai Palu. Foto: https://www.indonesia-tourism.com/central-sulawesi/ponulele_bridge.html

Jembatan tersebut kini tinggal kenangan karena ambruk saat gempa, tsunami dan liquafaksi yang menerjang Kota Palu dan Donggala pada 2018 silam.
Jembatan Ponulele kini. Foto: https://www.tanmia.or.id/2018/11/05/jembatan-kuning-icon-kota-palu-hancur-diterjang-tsunami/

Saat kecil, tidak ada kekhawatiran bermain dan berenang di Sungai Palu karena tidak ada cerita tentang buaya. Apalagi buaya berkalung ban. Hehehe.

Hampir setiap sore kami selalu bermain di sana. Dan setiap itu juga kami dikejar ayah kami yang memang melarang kami mandi sungai. Ah indahnya masa itu.

Kebetulan dekat tempat biasa kami mandi terdapat sebuah lapangan bola kecil. Selepas lelah bermain bola kami pastinya langsung nyebur ke sungai.

Cerita lain:

Bahkan adik saya dan teman-temannya beberapa kali berenang menyeberang dari sisi timur ke barat, padahal Sungai Palu cukup lebar dengan arus yang sangat deras. Saya hanya berani memandang dia dari tepian yang tidak dalam.

Saya sendiri pernah hanyut terbawa arus sungai. Beruntungnya saya nyangkut di batang-batang pohon yang ada di dekat tepian. Oleh beberapa teman-teman yang usianya lebih besar, saya kemudian ditarik oleh mereka.

Tetapi kejadian hanyut di sungai ini tidak membuat saya ngeri untuk mandi di sungai lagi . Besoknya ya tetap berenang lagi dan kemudian dikejar ayah lagi 😁.

 Kenangan yang tidak terlupakan tentunya.

Pada 2017, setahun sebelum kejadian gempa saya sempat mencari tempat bermain saat kecil ini. Lapangan bola mininya sudah tidak ada, namun tepian sungai masih tetap digunakan oleh masyarakat setempat.

Saat itu juga saya mencari rumah teman SD saya yang sejak kami lulus SD puluhan tahun sebelumnya tidak pernah bertemu lagi.  Rumahnya memang di tepian Sungai Palu dekat tempat kami biasa mandi.

Berbekal sisa-sisa ingatan arah rumahnya dan bertanya-tanya pada warga di sekitarnya akhirnya saya masih bisa menemukan rumah teman SD saya, atau tepatnya rumah orang tuanya

Saat mengetuk rumah, yang membukakan pintu seorang anak gadis yang berusia sekitar 10-11 tahun. Saya menduga gadis kecil itu pastilah anak teman saya tersebut.

Saya menyampaikan bahwa saya mencari teman SD saya, kalo tidak salah ini rumahnya dulu. Anak itu langsung berteriak memanggil kakeknya.

Tak lama kakek gadis kecil tersebut mempersilahkan saya duduk dan menanyakan saya siapa. Kakek gadis kecil tersebut kemudian membenarkan bahwa itu adalah rumah teman SD saya dan ia adalah ayahnya. 

Ia kemudian memberitahu jika anaknya yang teman SD saya tersebut sudah meninggal setahun yang lalu karena sakit. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga khusnul khotimah sobatku.

Almarhum kata ayahnya bekerja sebagai PNS di pemda dan belum sempat menikah. Ia sibuk menyekolahkan adik-adiknya.

Misi ke tepian Sungai Palu pada 2017 itu justru menemukan berita sedih. Pada 2018 bencana alam yang juga membawa kisah pilu.

Mari bangkit saudara-saudaraku.

This post have 63 komentar

Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel yah. Mohon maaf spam dan link aktif akan dihapus.
Terima kasih sobat...👍👍👍

  1. Balasan
    1. Tapi sudah tidak ada bu, tersisa puing-puing

      Hapus
  2. Pernah hanyut juga ya ternyata mas nya.

    Itu buaya berkalung ban gimana kabarnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah masih selamat meski hanyut.

      Buayanya masih diburu Mangs

      Hapus
  3. beraninya adik mas berenang... dengan derasnya.. dengan buayanya... agaknya kalau si Crocodile Hunter Steve Irwin masih hidup lagi pasti dia kan datang ke sini untuk berbuburu buaya ;-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Adik saya emng lebih tangguh Cik.

      Bisa jadi Cik, berita buaya ini viral pada para aktivis pecinta binatang.

      Hapus
  4. kasian buayanya kena sampah manusia ya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas... diduga buayanya udah makin tercekik oleh ban tsb karena badannya makin membesar

      Hapus
    2. kalo gak segera di tolong bahaya,,badanya makin lama makin besar tapi banya kan tetep segitu hadehhh

      Hapus
  5. Kenangan masa kecil mah sellau membekas ya mas. Apalagi masa-masa main bareng temen. Lari-lari, mandi di sungai, nyolong buah, wkwkwkwk

    Indahnya masa kecil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha betul mas. nyolong buah trs ketahuan empunya duh malunya...

      Hapus
  6. Loh kasian yah Bang, kirain perempuan berkalung sorban aja yang ada kini buaya berkalung ban :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba, kasian katanya buayanya makin tercekik

      Hapus
  7. saat ada hewan buas yg mulai menampakkan keberadaan nya berarti habitat mereka terganggu, betul ga bang?

    BalasHapus
  8. Wahhh, jangan-jangan karena bencana itu ya Buaya sampai sering muncul.. Trus gimanakabarnya buaya berkalung ban itu sekarang, Bang?

    BalasHapus
  9. Saya juga baca berita tentang buaya berkalung tersebut.
    Sedih banget kisah kali ini, turut berduka cita.

    BalasHapus
  10. Ternyata kampung bang day terdampak gempa beberapa tahun silam ya, jembatannya sampai rusak parah juga, hiks

    Wah wah masuk liputan nat geo juga si buaya, channel favorit saya itu hehe

    Ini mirip film lake placid bang buayanya
    Gede banget
    Ngerih euy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba... Alhamdulillah keluarga saya bisa selamat jiwanya. Masih banyak yang tidak seberuntung keluarga saya.

      Buaya 4 m ya besar.. bisa nelen sapi. Kalo cmn orang mah lewat

      Hapus
  11. turut bersedih bang dengan temenya yang sudah tidak ada, gw tau rasanya...

    BalasHapus
  12. ngeri kalo ketemu buaya, tp kasihan jg ya kalo ban itu gak dilepas..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas... makanya aktivis pencinta hewan pada rame

      Hapus
  13. Kasihan ya buaya, pakaya apa gak mau bantuin lepas itu? Hehehe. Yang pasti ini ulah manusia membuang sampah sembarangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Info dari berita kemungkinan buayanya semakin susah bernafas karena makin tercekik

      Hapus
    2. Waduhhh sudah tidak ada lagi mungkin kalo saat ini..

      Hapus
  14. Kasihan tuh biayanya bang. Apakah sampai Sekaran tuh buaya masih ada dan masih pakai kalung ban bang.

    Sampai jembatannya luluh lantah gitu yaa..😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Barusan ngecek berita onlen masih belum ketangkap buayanya

      Hapus
    2. yg mau ditangkap kayanya santuy2 aja :D

      Hapus
  15. saya malah fokus sama cerita masa kecilnya bang day, kedengaran seru banget bisa bebas bermain di sungai. trus jadi sedih karena bencana di palu dan temennya yang meninggal.
    ah, semoga temenya khusnul khotimah dan si buaya bisa segera lepasin kalaungnya ya. kasihan juga kalau nggak ada yang berhasil ngelepasin itu kaluang ban.

    BalasHapus
  16. Kasian buaya nya.walau jujur, buaya salah satu binatang yang membuat saya takut. kebayang aja, buaya yang bisa menelan manusia. di Kalimantan banyak ceritanya :)
    semoga kedepannya bisa dibangun lagi jembatan kayak gt. Jembatan sungguh selalu memperindahs ebuah kota dan jadi ciri khas yak

    BalasHapus
  17. Palu. Kota trmen saya sekarang tinggal bang.. katanya seru cuma aga gersang ya bang

    BalasHapus
  18. kalau aku hayut gitu dan tersangkut di ranting pohon, udah nangis teriak2lah. wkwkwk
    btw ngeri bgt sih buaya bannya.. semoga temannya khsunul khatimah ya, Bang

    BalasHapus
  19. Ternyata buaya berkalung ban itu sudah ada sejak 2016 lalu ya, Bang? Aku kira baru-baru ini, karena memang baru tahu beritanya beberapa hari yang lalu. Tapi kasihan juga sih, si buaya pasti tambah lama tambah tercekik. Kan bannya tetep segitu, tapi tubuh buayanya tambah besar. Di lain sisi rasanya serem juga, Bang. Mengingat si buaya itu ada di sungai yang biasa dipake main anak-anak. Apalagi ternyata yang di dalam sungai itu buayanya gak cuma satu.😱

    BalasHapus
  20. Saya sempat lihat berita buaya berkalung ban ini, sampai org dari ostrali datang buat menyelamatkannya. Eh ternyata baru tahu kalau buaya ini udah terlihat sejak lama.

    Btw, terkadang perjalanan mencari teman nostalgia kala kecil dulu memang menyenangkan. Ingatan jadi terbawa ke masa lampau

    BalasHapus
  21. Wahhhh semoga temen sobatnya bisa bahagia disana, jadi kangen temen SD dulu..

    BalasHapus
  22. ending tulisannya sedih kali bang ._.

    BalasHapus
  23. Saya kecilnya juga suka berenang di kali.
    Sampai terbawa derasnya arus sungai, Untung saja bisa berpegangan ranting pohon yang ada dipinggir sungai
    Wah kalau banyak buaya, ngeri juga ya.

    BalasHapus
  24. nah, ini beritanya lagi viral banget ya bang day. semoga buayanya bisa segera diselamatkan.

    baru tau ternyata lokasi buaya yang viral itu ada di kampung halaman bang day..

    BalasHapus
  25. Saya kira asal dari daerah lombok, ternyata Palu, hehehe. Jembatannya indah banget, semoga nanti jembatan yang indah itu dibangun lagi.
    Semoga teman bang Day, tenang dan menemukan tempat terbaik di sisi Allah.

    BalasHapus
  26. Saya ketika membaca judul konten ini langsung teringat film Perempuan Berkalung Sorban. Tapi tentu saja perempuan tidak bisa disamakan dengan buay 😂

    Btw, gimana ceritanya buaya itu bisa berkalung ban?

    Kepada masyarakat Palu dan Donggala yang masih berjuang melawan trauma setelah musibah beberapa tahun yang lalu, semoga diberikan yang terbaik oleh Tuhan 😇

    BalasHapus
  27. Oh Bang Day itu orang palu ya. Aku sangka masih orang sumatra. Ngomong-ngomong Bang gimana ceritanya kok buaya itu bisa berkalung ban gtu? Jadi kepo aku hahaha. Serem ya buaya itu. Itu salah satu binatang yang bkin aku takut. Lihat gambarnya aja aku udah takut bang hihihi

    BalasHapus
  28. Saya jadi keinget judul film... Buaya berkalung sorban.. Eeh berkalung ban yaa... Gmn apa orang Australia itu blom berhasil ya nangkapa si buaya itu? Ga mudah ternyata, udh pake ban aja msh bisa kabur, turut berduka atas kehilangan sobatnya,, sy juga inget gempa Palu wktu itu gak kerasa udah 2 thn yaa

    BalasHapus
  29. Kirain sudah tertangkap karena bisa terfoto. Trus, dari mana ya, asalnya?

    BalasHapus
  30. Saya jadi kasian sama buaya yang kesangkut ban, mari kita berhenti membuang rongsokan dan sampah plastik ke sungai agar hewan-hewan di air gak jadi korban.

    BalasHapus
  31. Turut berdukacita juga kang, gempa palu memang menyisakan duka bagi para korban dan juga keluarganya.

    Eh, jadi buaya berkalung ban itu sampai sekarang belum tertangkap ya? Ngeri juga ya.😱

    BalasHapus
  32. Wih jadi teringat kenangan masa kecil nih. Apalagi kalau lewat sore, pasti kena marah XD

    Semoga Palu bangkit kembali ya mas..

    BalasHapus
  33. Bang, itu berenang di sungainya pas usia berapa? jangan berenang sembarangan ih bang!
    Kasian ikan-ikan bisa hamil, buaya juga, *eh hahahahahahaha.

    Btw, jadi sebenarnya buaya-buaya itu baru sekarang aja banyaknya? saya sering liat di TV dan beberapa video kalau di sana itu banyak banget buaya, dan masyarakat udah kayak terbiasa gitu ama buaya-buaya :)

    BalasHapus
  34. Saya tonton nih perihal buaya berkalung ban ini di tivi, ternyata tempat kelahiran mas yah si Buaya berada. :) kalau ngak ditangkap ntar beranak gimana...?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah banyak Kang di sana, dan orang-orang di sana malah mengkeramatkan tuh buaya.
      Serem sih ya liatnya, karena biar gimanapun buaya itu termasuk hewan buas

      Hapus
  35. Kok saya malah kasihan dengan buayanya ya. Berkalung ban kan membuat dia tidak bebas bergerak juga. Btw, masa kecil berenang di sungai seru kali ya. Saya nggak pernah tinggal di dekat sungai, jadi nggak pernah belajar renang sampai usia 30-an.

    BalasHapus
  36. Kampung halaman selalu banyak kenangan. Ikut berduka atas meninggalnya teman bang Day. Jadi ingat anak-anak desa dekat sungai. Tanpa les renangpun mereka pandai berenang. Pasti seru berenang bareng teman-teman.

    BalasHapus
  37. waduhhh buayaaa itu bayangan paling menakutkan kalau saya menginjak sungai saat ini. Padahal dulu sewaktu masih TK saya suka mandi di sungai bersama kawan-kawan hehe

    BalasHapus
  38. Jadi gimana ceritanya sih Bang, kok bisa si buaya berkalung ban? Kasian ya semakin besar kan semakin tercekik

    BalasHapus
  39. Ngeliat buaya jadi teringat buaya-buaya darat yang saya kenal wkwkk

    Oiya nih, duh udah beberapa tahun yang lalu yah semenjak bencana yg pernah melanda palu. Hem jembatan yang pernah hits pada jamannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya ampun ngakak, jangan-jangan itu mantan buaya darat yang dikutuk jadi buaya berkalung sorban eh ban :D

      Hapus
  40. Untuuung, bisa dapat pegangan diantara kayu .. , kalo ngga .., bisa hanyut sampai laut, baang.
    Lainkali ngga usah main-main di kali besarlah, cukup di kali kecil.

    Itu buaya kok bisa pakai kalung ban, gimana cerita awalnya, ya 🤔 ?.
    Pengin modis kayaknya tuh buaya hi hi hi 😄

    BalasHapus
  41. Jadi, buaya tu masih ada di sungai ye. Seram tu. Alfatihah buat mereka yang telah pergi dalam bencana tsunami.

    BalasHapus
  42. Ini yang sempat viral 2 bulan yg lalu ya..

    BalasHapus
  43. Onde mande.... ngeri kali ini...
    di TV sempet heboh yo bang...

    BalasHapus
  44. Jadi inget dulu (pasca tsunami) suka ke Pantai Talise, terkadang bertemu dengan buaya.

    BalasHapus
Next article Next Post
Previous article Previous Post

---------- Label -----------

Cenderamata (3) course (3) Danau (2) Experience (18) Festival (2) Finance (5) Flight (4) Formal Dinner (2) Heritage (16) Hotel (15) Info (2) Journey (9) Kuliner (4) Lounge (7) Pantai (8) Reward (3) Spirit (6) Story (40) Study (5) Sunset (3) Taman (7) Tips (10) Vacation (27)