Sabtu, 13 Juli 2019

author photo
JejakBede.online - Pusat Oleh-Oleh Bugis Street Singapura, Jejak Pelaut  Bugis Di Tanah Melayu. Sejatinya saat sekolah hingga kuliah saya terjebak di jurusan Fisika, aslinya suka sejarah๐Ÿคฆ‍♂️๐Ÿคฆ‍♂️๐Ÿคฆ‍♂️.

Saya suka sekali membaca hal-hal yang berkaitan dengan sejarah dan juga menonton film-film yang berlatar sejarah. Beberapa tulisan saya yang ada unsur sejarahnya ada di sini : 
Tulisan tentang  jejak pelaut Bugis dan kaitannya dengan Bugis Street Singapura ini terinspirasi dari obrolan saya beberapa waktu lalu dengan seorang dosen dari Makassar yang sedang magang di KBRI Australia. Baca juga yah: Jejak BeDe di Australia.

Saat itu Pak Dosen tersebut bercerita tentang informasi yang dia dapatkan tentang bukti kehadiran pelaut Bugis di Australia dan pertalian mereka dengan suku Aborigin. Terdapat bukti bahwa sejak dulu kala ada pelaut Bugis yang berasimiliasi dengan penduduk asli Australia tersebut.

Dari laman GoodNews disebutkan interaksi antara orang Indonesia dengan orang Aborijin Australia telah ada jauh sebelum adanya pendatang dari Eropa. Pelaut-pelaut ulung dari Makasar dan Bugis berlayar pantai utara Australia setiap tahun, diperkirakan sejak tahun 1720-an sampai 1906 untuk mencari ikan teripang.


Bugis Street Singapura

Saya jadi teringat dengan pusat oleh-oleh Bugis Street Singapura, surga cinderamata dan suvenir yang yang murah meriah di Singapura. Penasaran juga apakah hanya sekedar nama atau memang ada kaitan dengan pelaut Bugis yang terkenal suka merantau tersebut.

Seperti kita tahu, Singapura adalah tujuan wisata ke luar negeri yang paling dekat dari negara kita. Bisa kita tempuh dengan perjalanan udara dan atau juga dengan sekedar kapal feri dari Batam.
Jejak lainnya : Menyusun Perencanaan Tugas Negara Di Aston Batam Hotel & Residence

Tentunya setiap wisatawan hampir pasti berujung di Bugis Street Singapura untuk mencari oleh-oleh buat kerabat. 

Perjalanan saya ke Singapura saat itu karena mendapat tugas untuk presentasi di sebuah acara tingkat Asean. Meski yang maju saya seorang, sejatinya ada tim besar di belakang saya yang menyiapkan semuanya.
Harapan saya sih para peserta dan expert dari negara-negara yang hadir bisa ngerti yang saya omongin wwkwk.

Jangan tanya apakah sempat jalan-jalan? Tentunya disempat-sempatkanlah, malam hari tentunya. Siang hari akan selalu full dengan materi-materi meeting. Apalagi jika belum jadwal presentasi, malampun harus digunakan untuk perbaikan-perbaikan paparan.

Jalan-jalan utamanya yah mencari oleh-oleh untuk tim di Indonesia yang telah menyiapkan semuanya untuk saya. Jadilah saya ke Bugis Street Singapore tersebut.
Cerita lengkapnya di sini : Tugas Negara sambil Wisata di Singapura

Bugis Street merupakan tempat untuk berburu buah tangan murah saat berwisata di Singapore. Berbagai cindera mata tersedia di sini dengan harga terjangkau namun berkualitas.

Jika dibandingkan dengan yang pernah saya beli di Belanda, Turki dan Australia, kualitas cinderamata di Bugis Street Singapura jauh lebih baik pada item dengan harga yang sama. Misalnya gantungan kunci, lebih tebal dan lebih besar dengan material yang lebih berkualitas.
Koridor utama Bugis Street Singapura


Saat ke Bugis Street Singapura, kami bersama teman  peserta dari  Thailand naik MRT dari Stasiun Orchard. Karena saat itu kami memang menginap di Hotel Concorde di jalan Orchard.

Perjalanan  sekali transit di Stasiun City Hall lalu berpindah perjalanan dengan naik MRT East West Line (garis hijau) hingga mencapai Stasiun MRT Bugis. 

Letak Stasiun MRT Bugis ada di bagian bawah Bugis Juction. Bugis Junction sendiri adalah sebuah mall besar di Singapura. Bagi wisatawan kelas atas mungkin akan berbelanja di sini. Tidak untuk saya yang masih kelas kuli hehehe.

Kita harus naik ke atas kemudian ke luar dari Bugis Junction untuk mencapai area Bugis Street Singaura. Pada malam hari akan terlihat tulisan “Bugis Street” yang menyala terang seolah menyambut kita yang datang berkunjung. 

Di dalam kawasan Bugis Street, kita akan menemukan berbagai souvenir lucu khas Singapura seperti gantungan kunci, kaus, pulpen, magnet kulkas, dompet, tas  hingga  berbagai snack seperti coklat dan biskuit.

Oh iya, pada saat di Singapura tersebut, saya join kamar dengan seorang kawan dari Jambi yang juga bagian dari tim besar pendukung saya. Karena join, maka kami dapat menghemat uang jalan. Hasilnya adalah oleh-oleh  dari Bugis Street Singapura untuk kolega kami pada dua kantor di daerah dan dua divisi di kantor pusat. Yah setara untuk 60an oranglah hehehe.

Untuk keluarga saya sendiri, dari  Bugis Street Singapura saya membelikan kaos dan topi untuk masing-masing anak saya. Gantungan kunci dan magnet kulkas pastinya adalah hal wajib sebagai jejak sejarah bahwa pernah ke Singapura hehehe.


Jejak Bugis Di Singapura

Keberadaan Bugis Street Singapura erat kaitan dengan cerita pengembaraan pelaut Bugis dari Sulawesi. Sebagaimana pengembaraan mereka ke berbagai penjuru dunia.

Dalam buku The Bugis karya Christian Pelras, disebutkan pengembaraan pelaut Bugis lebih karena faktor politik internal di tanah Sulawesi Selatan. Persaingan kerajaan-kerajaan yang ada di sana mengundang masuknya penjajah Belanda. Lebih lengkap baca di sini yah.

Pihak yang menang adalah yang bersekutu dengan Belanda dan yang kalah kemudian menyingkir keluar menjelajah berbagai tempat, termasuk hingga ke Singapura.
Perahu Pinisi yang digunakan pelaut Bugis. Sumber di sini

Persaingan negara penjajah Inggris dengan Belanda dalam melebarkan pengaruh, menyebabkan pelaut Bugis lebih condong kepada Inggris. Tentunya karena pelaut bugis yang mengembara tidak suka kepada Belanda yang telah mencaplok tanah mereka.

Singkat cerita pendiri Singapura, Sir Stamford Raffles terkesan dengan masyarakat Bugis yang dijumpainya daerah Penang, Malaysia. utamanya kemampuan dagang masyarakat Bugis. Sir Stamford Raffles kemudian mengajak masyarakat Bugis untuk bekerja sama melahirkan Singapura. Sumber dari sini.

Mengutip dari Wikia.org, disebutkan atas perlindungan Sir Stamford Raffles para pelaut Bugis dan kelaurganya diberi keleluasaan membangun kampung mereka di sepanjang Sungai Rochore.

Keberadaan pelaut Bugis membawa jaringan perdagangan yang mereka kuasai. Masyarakat Bugis dengan cepat membangun putaran roda ekonomi di Singapura.  Tahun 1824 terdapat sekitar 1.851 Bugis di Singapura atau setara 10 persen populasi pulau itu.

Raffles dalam membangun pemukiman mengikuti pendekatan rasial untuk berbagai komunitas yang ada di Singapura. Pelaut Bugis dan keluarganya diberi tanah antara Kampong Glam dan Sungai Rochore yang berada di dekat tempat Stasiun MRT Lavender sekarang ini.

Tempat ini kemudian dikenal sebagai Kota Bugis atau Kampong Bugis (Bugis Town). Secara resmi nama "Bugis Town" muncul di peta Singapura sejak tahun 1825.

Saat ini di kawasan Bugis tersebut telah berdiri pusat perbelanjaan terkenal di Singapura seperti Bugis Village, Bugis Junction, Bugis Square, dan Arab Street. Terdapat juga masjid terbesar di Singapura, ‘Sultan Mosque". Masjid tersebut merupakan peninggalan pengusaha-pengusaha Bugis di jaman itu.

Begitulah sobat bloger, sedikit cerita  Pusat Oleh-Oleh Bugis Street Singapura dan Jejak Pelaut Bugis Di Tanah Melayu. Saya sendiri jadinya bingung apa blog ini jadi blog jalan-jalan atau blog sejarah๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ . Salam hangat, selamat berakhir pekan yah.

This post have 65 komentar

Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel yah. Mohon maaf spam dan link aktif akan dihapus.
Terima kasih sobat...๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

  1. Hahaha blog sejarah jalan2 gitu kali ya.
    Btw, dr esdeh ampe esema, yg namanya pljran sejarah akutuh suka ngantuk, ssttt.

    Next kl belanja oleh2 lagi, jangan lupa kirim ke bali 1 ya. Wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi pelajaran sejarah sukanya ditaruh pada jam2 genting sesudah istrahat kedua.

      Ah kemaren nanya alamat mau icip2 somay tongkol alamatnya lom dikasih hehehehe

      Hapus
  2. Hebat sekali ya pelaut Bugis. Pantesan dalam buku sejarah dulu waktu sekolah dibilang nenek moyang kita adalah pelaut, mungkin suku lainnya dulu suka melaut juga Bang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa saja mas suku lainnya juga suka melaut tapi yang banyak catatan sejarahnya emg pelaut bugis.

      Hapus
  3. Seperti cerita yang beredar, pelaut bugis emang handal dalam menaklukkan ganasnya laut. Pernah deger sih sebelumnya tentang jalan yang satu ini... keren dah,, pengen rasanya liburan kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo dari Batam dah murah tuh ke Singapuranya.

      Iya mas, banyak catatan sejarah yang mengisahkan tentang perjalanan pelaut bugis ke berbagai penjuru

      Hapus
  4. Setelah baca-baca di atas ternyata indonesia khususnya pelaut bugis punya andil juga untuk perkembangan kehidupan dinegara-negara maju tersebut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah mas. Kemampuan mereka berdagang memberi andil kemajuan ekonomi awal2 negara itu dibangun

      Hapus
  5. jadi nama sebuah tempat sejarah pelaut bugis benar benar mengesankan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pemerintah sana menghargai eksistensi masyarakat Bugis yg sdh ikut membangun negara mereka

      Hapus
  6. Dibalik cerita jalan-jalannya, ada sejarahnya. Jadinya tahu nih trik pelaut dalam berdagang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setidaknya ikut bangga kita, negara tetangga maju karna ada andil bangsa kita hehehe

      Hapus
  7. Hebyattt nih Bang Day, bisa jadi pembicara di Forum Tingkat ASEAN.

    tRUS....Oleh buat kami apaan yah...? Tulisan doang yah, hahahah, okelah kalau begitu. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhahahaha, iya kang, kita dapat ceritanya aja dulu, siapa tau besok2 kita bisa dpt kaos atau topinya juga, minimal magnet kulkas lah hehehehe

      Hapus
    2. Gak hanya tulisan kang Nata, setidaknya ada gambarnya hehehe.
      Noted mba ursula. Smg besok2 bisa ke LN lagi hehehe

      Hapus
    3. Mbak Meta > hahaha...betul juga kata Mbak Meta, minimal gantungan kunci gitu, hkhkhk...

      Bang Day . > hahaha,,,jadi oleh2 buat kami gambar juga yah, oleh oleh yang benar benar berkesan. hkhkhk...

      Hapus
    4. Doakan saya bisa ke sana lagi biar bisa bawain oleh2 buat kang Nata n mb Meta ๐Ÿ˜

      Hapus
  8. Seengakany pas kita ke singapura (kalau ada rezeki $5000 misalnya) terus jalan ke bugis street, kita jadi gak katro2 amat yah, tahu sejarah bugis street dan kaitannya dengan orang bugis dari sulawesi indonesia, sehingga pas jalan2 kita bisa cerita soal bangsa bugis yang berlayar sampai ke singapura karena mereka kalah dari belanda.. dll, pantas aja sih yah ada lagu nenek moyangku seorang pelaut, ini buktinya ada juga di singapura...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiiin mas semoga terwujud dapat $5000. Sebelum borong oleh2 yang banyak jgn lupa infak yah heheeh.

      Ya lagu itu benar adanya

      Hapus
  9. Pelaut Bugis memang berlayar kemana-mana. Di Flores juga ada keturunan bangsa Bugis. Tapi memang, nama Bugis di Singapura sekarang lebih diasosiasikan dengan pasar oleh-oleh murah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo di Nusantara sebaran Bugis hampir di mana2 juga sih

      Hapus
  10. Ramainyaa
    Dan nilai historisnya tetap tinggi ya bang

    kapal itupun jadi icon uang kertas Rp 100 jaman dulu ya Bang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kok bisa ingat bang Aul uang Rp.100 gambarnya pinisi ?

      Hapus
  11. Ternyata lagu nenek moyangku seorang pelaut pas untuk bangsa kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya memang nenek moyang kita emang pelaut ulung mas hehehe

      Hapus
  12. Mirip saya juga, saat SMU jurusan IPA, kuliah malah di jurusan hukum perdata & manajemen kewirausahaan+inovasi. Inspiratif, cocok lah jadi motivator juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantap bang Vicky, bakatnya luar biasa nih

      Hapus
  13. Saya sekolah suka biologi
    Tapi kejerumus dalam hobby puisi

    :)

    Aku terasa telah bermimpi
    Ke singapura saat ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang jadi mimpi hari ini
      Esok akan dimiliki

      Hapus
  14. padat ya jalannya, kayak di jawa aja….
    mantap reportasenya….

    BalasHapus
  15. Luar biasa nih suku Bugis :)
    Hebat!!

    BalasHapus
  16. Seneng deh bacanya... Jadi tau sejarahnya.
    di NTT banyak juga beberapa pulau kecil yang dulunya tak berpenghuni sampai akhirnya para pelaut dari bugis datang kesana. MaasyaaAllaah ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pernah baca juga mba soal pengemberaan pelaut bugis hingga ke pulau-pulau di NTT. Berkaitan dengan usaha membendung invasi dari arah Bali kalo gak salah

      Hapus
  17. Pelaut bugis memang terkenal sejak jaman dulu... Kapal Pinisi itu kayaknya dulu pernah dijadiin gambar dalam uang kertas, lupa pecahan berapa hehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tuh di atas kata bang Aul pada pecahan rp.100

      Hapus
  18. Kerana masyhurnya masyarakat Bugis suatu masa dahulu, sekarang nama2 pahlawan mereka tercatat dalam text book sekolah...kiranya satu penghargaan buat mereka atas sumbangan yang diberi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya sebagian besar kerajaan di Malaysia merupakan keturunan Bugis yah kalo gak salah

      Hapus
    2. ya..sebahagian orang Johor dan kesultanan Johor hari ini berketurunan Bugis. begitu juga dengan kesultanan Selangor, juga orang Bugis. mantan PM malaysia, DS Najib Razak juga berketurunan Bugis. antara pahlawan Bugis yang terkenal dalam sejarah Melayu bernama Raja Haji.. dan sebahagian adat Bugis masih diamalkan hingga sekarang.

      Hapus
    3. Cik Anies ternyata suka sejarah juga yah. Smg saya bisa jalan2 ke tanah melayu kampung halaman Cik Anies

      Hapus
  19. wah sama kita.tersesat saat sekolh tapi suka bgt sejarah2 hahahaha
    btw tks inpohnya...siapa tau kesana lagii heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fisika sejarah apa sejarah fisika mba? hehe

      Hapus
  20. menarik sekali info sejarahnya. dicatet deh, ntar kalau ke singapura beli oleh2nya di bugis street aja

    BalasHapus
  21. Wah, jadi makin yakin kalo dulunya orang Indonesia ini pelaut-pelaut hebat. Salah satu pelaut yang disegani pada zamannya ya pelaut dari suku Bugis ini. Top Bang, gak apa2 jalan-jalan sambil belajar sejarah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya khawatir malah kebanyakan sejarahnya daripada jalan-jalannya

      Hapus
  22. mantab bang, bisa jalan-jalan terus ternyata dulunya fisika ya sama kayak saya hehehe

    BalasHapus
  23. Aku pernah sekali belanja2 di Bugis ini, mas :) Tapi belinya ga mau gantungan kunci dan yang seringkali jadi oleh2 hehehe. AKu cari barang lain aja, ga ngeborong sih. Aku nyobain minuman2 di situ juga, murah tapi enak dan ramai pembelinya. Keren mas jurusan fisika dan suka sejarah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah trs jadinya beli apa nih mba. Mungkin saya salah jurusan kali hehe

      Hapus
  24. aaak pengen belanja di BUgis, nggak papa blog traveling+sejarah.. wqwqqwq

    BalasHapus
  25. Unik ya, di Singapura ada Bugis Street yang ternyata karena kedatangan para pelaut Bugis di jaman Raffles :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah begitu di catatan sejarah.
      btw kok 2 blognya gak bisa diakses semua bang ?

      Hapus
  26. INget banget dulu pernah ke Bugis street SIngapura
    niatnya mau jajan oleh-oleh yang banyak banget.
    AKu mikirnya harga di sini emang beneran murahh.
    Ternyata memang benar murah,
    tapi untuk orang seukuranku kok rasanya masih mahal haha
    jadi ga beli apa apa deh fufufufufu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aih pura2 nih, masak gantungan kuncul 5 rebu aja mahal hehehe

      Hapus
  27. Aih, baru tahu kalau Sir Stamford Raffles adalah pendiri Singapura. Makasih wawasannya Bang Day! Betul itu disempat-sempatin ya jalan-jalannya meski dalam kegiatan bertugas. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyalah mba... acaranya tuntas jam 5 sore. Tiket pulang dibelikan panitia pagi2 banget. So cmn malam waktunya

      Hapus
  28. Berasa belajar sejarah aku ๐Ÿ˜‚

    Bertugas sambil jalan2 jadinya ya bang. Pulang2 bawa oleh2 dan ilmu baru. Baik lagi dibagi2 lewat tulisan ๐Ÿ˜
    Oleh2 dari bugis streetnya dibagi2 jg dong sama pengunjung blognya yg mampir bang hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah kesempatan berikut mba saya siapkan deh hehehe

      Hapus
  29. Mantap bang saya jadi tau sejarah ttg bugis street ini, dan memang banyak juga org indo yg tinggal di singapura ini sejak dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo bukan bugis street ini mungkin kita gak akan mengaitkan Singapura dengan orang2 Indonesia kali yah

      Hapus
  30. Tak masalah bahas sejarah dalam kisah melawat ke tempat mana pun, selalu ada segi menarik dalam tempat yang kita kunjungi. Termasuk Bugis Street. Sudah lama saya baca nama itu tapi tidak tahu banyak, baru perhatikan kala baca novel Jendela-jendela karya Fira Basuki.
    Pelaut Bugis memang tangguh dan pemberani, watak keras mereka dalam mengarungi lautan membuat saya kagum. Seakan laut bukanlah pemisah melainkan jalur penghubung menuju daratan lain yang lebih memungkinkan demi pengembaraan.
    Mohon maaf, saya baru bisa komen lagi di blog teman-teman karena sibuk membangun pondasi Indonesia Saling Follow sebagai admin acara follow loop di Instagram.

    BalasHapus
  31. Orang Bugis emang terkenal banget di banyak daerah ya, bahkan di luar negeri.

    Btw saya suka banget dengan bahasan bang Day, kalau ke suatu daerah lebih suka mengedepankan cerita sejarahnya yang sudah semakin jarang dibahas orang :)

    BalasHapus
Next article Next Post
Previous article Previous Post