Kamis, 16 Mei 2019

author photo
JejakBeDe - Menyusuri Jejak Kehidupan Masyarakat Lampau pada Desa Sade Lombok.
Pernah gak teman-teman membayangkan bagaimana kehidupan masyarakat di jaman dulu kala. Tanpa listrik, handphone, teknologi dan kendaraan bermotor ?

Jejak kehidupan masyarakat seperti itu masih bisa kita temukan di Desa Sade Lombok. Tempatnya di  Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Berjarak sekitar 11 kilometer ke arah selatan dari Bandara Internasional Lombok (BIL).
Jejak terkait :

Adapun dari ibukota NTB di Kota Mataram jarak menuju Desa Wisata Sade sekitar 40an kilometer ke arah tenggara. Dari Mataram sendiri kita tetap akan melewati bandara BIL untuk mencapai Desa Sade Lombok ini. 

Desa Sade Sebagai Desa Konservasi


Di Desa Sade Lombok bermukim masyarakat etnis Sasak yang merupakan suku asli Lombok. Mereka adalah merupakan kelompok yang teguh mempertahankan tradisinya. Semuanya berasal hanya dari satu garis keturunan saja, karena pernikahan terjadi hanya sesama warga Sade. Jumlah penduduknya saat ini hanya berkisar 150an kepala keluarga.

Karena tetap mempertahankan budaya dan tradisinya maka Desa Sade Lombok ditetapkan sebagai desa konservasi sesuai SK Gubernur NTB. Sebagai desa konservasi, Desa Sade Lombok merupakan contoh atau model desa yang mampu mempertahankan nilai-nilai aslinya, tanpa terpengaruh perkembangan zaman.
Perkampungan Desa Sade Lombok. sumber foto di sini

Hal ini bisa kita lihat dari bentuk rumah yang dari anyaman bambu tanpa paku dan bahan atap yang hanya dari jerami. Lantai rumahpun di Desa Sade Lombok ini hanya beralas tanah, meski sekarang sudah banyak juga yang disemen. 

Desa Sade Sasak terletak di tepi jalan raya utama yang menghubungkan Kota Mataram, Bandara BIL dengan destinasi wisata pantai di sebelah selatan Lombok Tengah. Antara lain pantai Kuta, Pantai Mawun dan Pantai Mandalika. Selengkapnya : 7 Pantai Cantik Lombok Yang Pernah Saya Kunjungi.

Jika kita dari arah Mataram maka gerbang Desa Sade Lombok ada di sebelah kiri. Akan terlihat di sisi seberangnya papan namanya sekaligus area untuk parkir. Berhati-hati yah jika ingin menyeberang dari parkiran ke area Desa Sade karena lalu lintas selalu ramai.

Tidak ada Pungutan untuk Masuk ke Desa Sade


Saat masuk gerbang, kita akan disuguhi kotak donasi yang besarannya terserah kita. Jadi sebenarnya untuk masuk ke Desa Sade Lombok tidak ada tiket resminya. Donasi tersebut kata seorang kawan untuk local guide yang akan menjelaskan sejarah desa ini.
Gerbang masuk Desa SadeLombok

Memang ada baiknya kita menggunakan jasa local guide, sehingga kita bisa mendapatkan informasi yang detil dan lengkap. Meski sebenarnya kita bisa bertanya kepada warga yang ada di rumah-rumah di Desa Wisata Sade ini.

Selepas gerbang kita akan melihat sebuah banguan dengan atap setengah lingkaran. Ini merupakan lumbung padi atau menurut bahasa setempat disebut "Alang". Bentuk atap ini menjadi simbol Pulau Lombok. Arsitektur seperti ini konon dapat mencegah tikus memanjat memasuki lumbung padi.

Pose ah depan lumbung Desa Sade

Bergerak ke dalam kita akan menemui gang atau jalan-jalan sempit dari tanah khas perkampungan. Seolah kita berada jauh dari peradaban masa kini. Rumah-rumah yang ada benar-benar asli sebagaimana rumah tradisional Sasak Lombok. Tidak ada listrik dan alat-alat elektronika.
Jalan dalam kampung Desa Sade Lombok

Ada hal unik yang diceritakan kawan yang bersama kami. Kebiasaan masyarakat Desa Sade Lombok adalah mengepel lantai dengan kotoran kerbau. Katanya ini membuat lantai lebih bersih dan nyamu tidak akan mendekat. Sayangnya saat kami berkunjung, sedang tidak ada ritual ini.


Suvenir dan Tenun khas Sasak 


Pada rumah-rumah di bagian depan Desa Sade Lombok ini banyak yang menyediakan suvenir khas suku Sasak Lombok. Kalung, peci, gelang dan tas yang ditawarkan merupakan produk asli buatan mereka. Terdapat pula suvenir berupa replika rumah adat Sasak dam asesoris lainnya

Lapak suvenir di Desa Sade Lombok

Tentunya yang paling terkenal adalah tenunan khas Sasak. Tenunan ini berupa sarung dan songket yang dibuat langsung dengan alat tenun tradisional di desa ini. Kita akan menemukan ibu-ibu yang dengan tekun menenun kain tersebut.
Tenunan khas Sasak Produksi Desa Sade

Para penenun dengan ramah akan menawarkan kita untuk mencoba alat tenun mereka. Mereka juga akan mengajari kita cara menenun. Kalopun tidak ingin belajar, minimal sekedar berfoto berpura-pura menenun, seperti kolega saya di bawah ini😁😁😁.
Alat tenun tradisional di Desa Sade Lombok.

Tidak butuh lama untuk mengitari seluruh area desa wisata ini. Meski luas area Desa Sade Lombok mencapai 5.5 ha, bagian wisatanya sebagian besar berada di bagian depan dari arah gerbang masuknya.

Oh iya jika ingin membeli suvenir, jangan segan untuk menawar. Warga Desa Sade sangat senang jika barangnya ditawar, karena mungkin dianggap kita berminat terhadap barang tersebut. 

Menyusuri desa konservasi ini, membuat kita dapat mengenal kehidupan lampau nenek moyang kita. Khususnya kehidupan suku Sasak yang masih teguh menjaga keaslian budaya dan tradisi di Desa Sade mereka.

This post have 40 komentar

Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel yah. Mohon maaf spam dan link aktif akan dihapus.
Terima kasih sobat...πŸ‘πŸ‘πŸ‘

  1. Keren dah benar-benar dipertahankan. Saya juga anak desa pedalaman dr NTT, tp bedanya desa kami sdh mengalami percampuran budaya, keturunan, juga kehidupan modern.
    Tapi di beberapa desa tetangga ada yg masih sangat menpertahankan tradisi mereka. Belum pernah kesana.
    Ingin sekali bisa berkunjung ke tempat-tempat yang di zaman skrg ini terbilang unik krna mempertahankan segala bentuk tradisinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tos deh kita mba, sesama anak desa. Desa sayapun tidak ada yang seperti desa Sade ini.

      Tentunya seru juga tuh desa-desa di NTT yang juga masih mempertahankan tradisinya. Ayo mba dijadikan tulisa di blognya

      Hapus
  2. Rumah yang unik, souvenirs juga cantik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Unik dan mempesona mba. Suvenirnya juga murah meriah lo

      Hapus
  3. Kak, kakak asli mana?

    Aku seneng banget bisa lihat keadaan Lombok melalui Desa Sade dari artikelnya Kakak. Keren ya Kak... masih melestarikan seni dan budayanya. Ada souvenir dan yang menarik kain Sasak. Oh ya Kak, penenun Kain Sasaknya itu langsung on the spot-kah dan kita bisa melihat secara langsung proses penenunnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo kami dari Sulawesi mba. Kemaren sempat dinas 15 bulan di Lombok.
      Iya mba, tenunanny ada yang on the spot dan kita bisa melihat mereka menenun

      Hapus
  4. tempatnya sederhana mas ya,..desain rumahnyapaun masih tetap sangat sederhana dengan hanya beratapkan daun ilalang,..luar biasa, ini bisa jadi tempat wisata nih di kemudian hari,..selain itu juga ada jual souvenir yang tentunya bisa menarik minat pengunjung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sederhana dan nilai klasiknya sangat tinggi. Sekarangpun udah jadi destinasi wisata terkenal di lombok mas

      Hapus
  5. Menelisik jejak orang dahulu, tidak terlepas dari warisan dan budaya seni lokal, semua terjadi secara turun temurun...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget bang... tradisi dibentuk karena kebiasaan yang terus dijaga turun temurun

      Hapus
  6. Sudah banyak banget blog yang mengulas tentang desa Sade ini. Jadi pengin ke Lombok nih. Dulu pas ke Lombok nggak sempat ke desa ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ke Jepang ma eropa aja mba Dyah bisa, apalagi cmn ke lombok hehehe

      Hapus
  7. Aku mupeng lihatnya Mas. Btw, kain2 etnik Lombok harganya berapaan tuh Mas? Makasih sudah sering mampir ke blogku ya. Aku follow blognya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu 200 ribuan mba. Gak tau sekarang. Trims udah difollow

      Hapus
  8. Alang itu semacam rangkiang balirik yaa????

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setelah saya gugling .. iya sama mba hehehe

      Hapus
  9. Sudah lama pengen banget ke Lombok ditambah baca artikel ini jadi semakin kepengen ke Lombok..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo buruan hubungi agen travelnya mba

      Hapus
  10. Gak kebayang gimana rasanya tanpa listrik, tapi saya pernah berlibur ke daerah yang tidak ada sinyal sehingga seperti hidup sehari tanpa handphone. Banyak dampak positifnya sih, jadi lebih sering berinteraksi dengan manusia, tanpa harus sedikit-sedikit membuka pemberitahuan gak penting.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tanpa hape kita bisa meningkatkan kualitas interaksi kita dengan orang lain yah mba... Kalo sekarang pandangan lebih sering ke hape daripada ke lawan bicara

      Hapus
  11. Wisata budaya banget ini mah. Kalo ke sana mau beli tenunannya :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget mas. Tenunannya keren tuh ayo dikoleksi mas

      Hapus
  12. Tapi memang benaran ya mas kalo disitu nggak ada listrik?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bang... di luar kampungnya sih ada listriknya

      Hapus
  13. Menyenangkan sekali kehidupan orang-orang di desa sade ini ya. Tapi bisakah kalau saya yang hidup disana, hidup tanpa kehidupan modern hikss.

    BalasHapus
  14. Sering banget denger ttg desa sade ini, rumat adatnya pun khas sekali, ingat suku sasak jadi ingat suku badui dalam yang enggan memakai listrik dan alat modern lainnya salut dgn mereka gak tergoda sama sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo suku Baduy hampir semuanya mengisolasi yah. Nah di lombok hanya 1 desa aja dari keseluruhan suku Sasak mba

      Hapus
  15. Pernah dulu ke sini,..wisata budaya mengasyikkan ya Bang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berapa lama mas Aris tinggal di lombok dulunya ?

      Hapus
  16. pengen banget beli tenunnya, keren banget bang day.

    by the way saya belom nulis nulis lagi hehe. lama ngga mampir ke mari.

    BalasHapus
  17. seru banget pasti ya rekreasi di sana. rumahnya lucu, kebudayaannya menarik, penduduknya ramah, lingkungannya asri...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya mba, seolah kita ada di jaman batu hehe

      Hapus
  18. integrase antara design desa tua dan kehidupan masyarakat…
    mantap

    BalasHapus
  19. Aku kok pengin banget ngerasain tinggal di desa Sade ya .., soalnya ngga ada sarana listrik itulah penyebabnya .., karena teringat masa kecilku tiap libur sekolah ke desa nenek buyutku yang gelap gulita tak ada sarana listrik.

    Enak loh gelap-gelapan cuma berpenerangan petromax atai juga obor πŸ˜ƒ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh kok senangnya gelap2n yah heheh.

      Jaman skrg masih sanggup gk yah tanpa listrik dan pasti tanpa hp

      Hapus
  20. cantiknya view desa sade...rasa tenang dan aman saja...

    BalasHapus
Next article Next Post
Previous article Previous Post