Senin, 24 September 2018

author photo
Studi Banding ke Deltares Belanda - Deltares adalah sebuah lembaga independen di Belanda untuk penelitian terapan bidang pengairan dan bawah permukaan.


Kantor Deltares terletak di Kota Delft Belanda, sekitar 70 km ke arah selatan Amsterdam, ibu kota Belanda. Studi Banding ke Deltares Belanda ini merupakan rangkaian kisah perjalanan kami dalam artikel  Mondok Sebulan di Wageningen - Belanda dan Mengelana sebulan di Belanda.

Karena kami selama training Climate Change tinggal di Wageningen, maka saat berkunjung ke Deltares kami berangkat dari sana, kurang lebih 105 arah timur dari Deltares sendiri. Hampir 2 jam perjalanan dengan bis. Kami berangkat pukul 7 pagi setelah sarapan. Oh iya ini pekan ketiga kami di Belanda.


Tentang Deltares


Belanda adalah negara yang banyak wilayahnya berada di bawah permukaan air laut namun tidak ada berita banjir. Mengapa ? Salah satunya adalah peran Deltares. Deltares berperan dalam pengembangan pengetahuan dan berbagi pengetahuan untuk pengembangan delta yang berkelanjutan, wilayah pesisir dan cekungan sungai. Dalam  aktivitasnya,

Deltares menjalin kerja sama secara erat dengan otoritas pemerintah, perusahaan, lembaga penelitian, dan LSM di dalam dan di luar negeri. 

Presentasi oleh Pihak Deltares tentang aktivitas Deltares

Secara umum bidang keahlian Deltares meliputi manajemen pengelolaan resiko banjir, Perencanaan delta ayang adaptif, infrastruktur baik di atas tanah ataupun di atas air, pengelolaan sumber daya air dan lapisan tanah, dan juga lingkungan.

Sebagai contoh adalah proyek perlindungan area pantai di Jakarta yang merupakan kegiatan kerja sama Indonesia dan Belanda yang melibatkan Deltares. 

Koridor menuju Ribasim Deltares

Deltares memiliki semacam laboratoriun yang disebut RIBASIM atau RIver BAsin SIMulation, sebuah model paket model generik untuk menganalisis perilaku cekungan sungai dalam berbagai kondisi hidrologis. Paket model adalah alat yang komprehensif dan fleksibel yang menghubungkan input air hidrologi di berbagai lokasi dengan pengguna air spesifik di basin.

Ribasim Deltares

Ribasim Deltares

Pada proyek Deltares di Jakarta mereka mengemukakan bahwa penurunan permukaan tanah di Jakarta merupakan masalah yang serius dan nyata terjadi.

Penurunan tanah memperburuk potensi dampak banjir di Jakarta.  Ada lebih banyak kerusakan ekonomi dan risiko korban lebih tinggi. Solusi yang ditawarkan Deltares adalah Pendekatan terintegrasi.

Untuk melindungi Jakarta di masa depan, konsorsium mengadopsi pendekatan terpadu untuk desain. Dengan implementasi rencana tersebut, Jakarta akan memiliki perlindungan jangka pendek dan jangka panjang terhadap banjir dari laut.

Sistem sungai dan kanal juga sedang dibersihkan, lalu lintas baru sedang dibangun, dan kota akan menerima dorongan perencanaan ekonomi dan perkotaan. Selain di Jakarta, banyak proyek internasional yang dikerjakan oleh Deltares, seperti studi dampak pembangunan kota di Kuwait terhadap kualitas air tanahnya. 

Sebelum pulang tak lupa mejeng dulu di Deltares (@Wido)
















Apa kaitan training Climate Change yang kami ikuti dengan Deltares ? Kita tahu salah satu dampak turunan dari perubahan iklim adalah naiknya muka air laut. Tentunya akan ada banyak daratan yang tenggelam. Deltares menawarkan studi untuk mengantisipasi dampak naiknya muka laut terhadap wilayah daratan yang dimiliki suatu negara.


Studi Banding Lanjutan - Kinderdijk


Studi banding di Deltares hanya setengah hari. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan untuk studi "membandingkan keindahan" kota kecil Kinderdijk  dan Dordrecht, Belanda.

Dari Deltares di kota Delft ke Kinderdijk jaraknya 46 ke arah tenggara. Dari Kinderdijk ke Dordrecht sekitar 13 km. Kinderdijk adalah sebuah desa (untuk ukuran Belanda) yang memiliki sebuah kawasan dengan 17 kincir angin. Kincir angin ini telah berdiri sejak abad ke-18.

Kinderdijk masuk ke dalam daftar UNESCO World Heritage. Menurut penjelasan mr. Jupri kincir angin yang ada di Kinderdijk berfungsi juga  menjadi mesin pompa untuk menjaga level air di area ini. Kinderdijk memang berada lebih rendah dari permukaan laut sehingga jika level air naik, maka pompa dinyalakan untuk mengalirkan air ke sungai.

Kinderdijk Belanda
Suasana di Kinderdijk Belanda (@Didik)

Kinderdijk Belanda
Ternyata ada artis India berkacamata (@Didik)


Dordrecht


Puas "studi banding" fungsi kincir angin di Kinderdijk kami bergerak ke Dordrecht. Beberapa literatur menjelaskan bahwa Dordrect kota kuno dan tertua di Belanda. Dordrecht sendiri sebenarnya sebuah pulau atau delta yang terbentuk dari aliran beberapa sungai yang ada di Belanda. 

Mejeng dulu di salah satu sudut Dordfecht Belanda

Dordrecht saat ini merupakan adalah pelabuhan laut terbesar ke-6 di Belanda, dan terkenal sebagai tempat pembuatan kapal serta industri kayu dan baja. Meskipun disebut sebagai kota tertua di Belanda, beberapa sisi Dordrecht sama sekali tidak menunjukkan hal tersebut. 


Salah satu sudut Dordrecht Belanda


Salah satu sudut Dordrecht Belanda

Perjalanan Studi Banding ke Deltares Belanda dan ke Kinderdijk serta Dordrcht pulang pergi ke Wageningen totalnya 300an km. Dan sopir bis yang membawa kami seorang wanita lo. Ruarrr biasa bukan ?

@Didik

Perjalanan dengan jarak tempuh 300 km meski busnya nyaman tentu tetap melelahkan. Wajarlah jika kemudian suasananya jadi begini.


Wajah-wajah puas studi banding

Demikian cerita Studi Banding ke Deltares Belanda yang berlanjut ke Kinderdijk dan Dordrecht Belanda.

This post have 14 komentar

Silahkan memberi komentar sesuai isi artikel yah. Mohon maaf spam dan link aktif akan dihapus.
Terima kasih sobat...👍👍👍

  1. wuih keren kang day study bandingny k Negeri Kincir Angin ya.. hehehe.. semoga sukses selalu y kangg

    BalasHapus
  2. sepertinya asyik ya tour nya Studi Banding ke Deltares Belanda ....

    BalasHapus
  3. Bang Day, sebelumnya saya mohon maaf jika jika komen saya ini agak tidak nyambung atau tidak nyambung sama sekali dengan postingan ini. Soal studi banding di Belanda. Ini menarik, jika melihat hal yang agak berbeda. Batik, Angklung saya pernah dengar (tolong koreksi) kalau salah. Sudah ada di musem.... di Belanda. Jika itu benar. Mungkinkah 20 tahun lagi kita harus studi Banding ke belanda hanya untuk belajar tentang Batik?

    Sepertinya iya, melihat realitas, mohon dikoreksi pandangan ngawur saya di atas bang?. salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada banyak hal tentang Indonesia yang masuk arsip di Belanda yang awalnya untuk studi mereka. Tidak hanya Batik atau angklung, bahkan tanaman pisang mereka coba pelajari dan budidayakan.

      Trims komennya bang

      Hapus
    2. Entah mengapa saya berpikir seperti ini. Arsip nasional. Cendekiawan yang bergelut dengan sejarah, maupun dinas pariwisata rasanya harus 'menggandeng' para blogger dengan membuat berbagai terobosan dan kemasan inovatif. Tujuannya untuk mendokumentasikan catatan sejarah, mempublikasikan Indahnya Indonesia. Jika mengandalkan Dinas Pariwisata saja saya kok pesisimis. Melihat kerjanya saja hehheee...tak elok untuk dikomentari.

      Negara seberang saja tahu kalau Indonesia itu indah bangat hehehe

      Bang Day, saya suka ulasannya menarik. Saya suka

      Hapus
    3. Kayaknya sudah banyak arsip kita yang dikembalikan belanda ke arsip nasional.

      Hapus
  4. Penasaran sama Ribasim. Unik, baru mendengar ada penelitian tentang cekungan sungai. #telatinfo hehehe.

    BalasHapus
  5. Luar biasa ya teknologi dan SDM di Belanda. Semoga kita enggak cuma bisa terheran-heran atau kagum, tapi bisa mencontoh ilmu mereka. Betapa bahagianya jika Jakarta dan daerah-daerah lain di Indonesia yang biasa kena banjir suatu saat bisa bebas banjir :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tantangan kita karena negara kita begitu luas mba, sementara modal membangun tidak sebanding dengan luas negara kita. jadinya penyelesaian masalah tertentu seperti banjir menjadi parsial

      Hapus
  6. Wahhh tempatnya keren keren gitu ya luas dan kerennnnn banget lah bisa studi banding kesana, semoga saya juga bisa berkesempatan studi banding disana juga hehe

    BalasHapus
Next article Next Post
Previous article Previous Post